Setiap orang Kristen telah diberi setidaknya satu karunia rohani yang dapat digunakan untuk melayani jemaat tubuh Kristus. "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin" (1 Petrus 4:10-11; bandingkan dengan Efesus 4:11-16). Jadi, langkah penting dalam menetapkan cara seseorang melayani dalam gereja adalah mencari tahu karunia rohani yang dimilikinya. Namun kita tidak perlu menunda terlibat dalam gereja hanya karena belum mengetahui jenis karunia rohani yang kita miliki. Sebaliknya, kita sering menemukan karunia rohani kita ketika kita sedang melayani. Berbagai jenis karunia rohani telah didaftarkan dalam Roma 12:6-8 dan 1 Korintus 12:4-11,28.
Ada perbedaan di antara Tubuh Kristus secara global (1 Korintus 12:12-13) dan gereja lokal yang dihadiri umat Kristen guna beribadah bersama (Ibrani 10:25). Akan tetapi, tidak ada perbedaan dalam cara orang Kristen menggunakan karunia rohani mereka, karena melayani Allah adalah kewajiban dua puluh empat jam, bukan hanya kegiatan di hari Minggu. Semua orang Kristen dimanapun juga sudah sepatutnya melayani Allah dalam gereja lokal mereka dan mencari kesempatan untuk melayani di luar bangunan gereja (2 Korintus 9:12-13). Mungkin saja kita kesulitan menemukan karunia rohani khusus yang Allah berikan pada kita, namun adalah jauh lebih baik untuk melayani daripada tidak melayani (Roma 12:11). Seringkali, penemuan karunia rohani semakin jelas ketika kita sedang bertindak - ketika kita sedang menjalankan berbagai tugas, kita menyadari keahlian kita dan ketertarikan pada bidang tertentu (1 Tawarikh 28:9).
Akan selalu lebih banyak kebutuhan dibanding pekerja yang bersedia; hal ini benar pada jaman Kristen dan masih bersifat demikian pada jaman ini (Matius 9:37). Kita tidak mungkin kesulitan mencari kebutuhan yang belum terpenuhi dalam gereja lokal kita. Baik melalui penginjilan komunitas terdekat (yang diamanatkan Yesus kepada semua orang Kristen, Kisah 1:8) sampai dengan membersihkan kamar mandi, akan selalu ada saja tugas yang perlu dilakukan. Ada baiknya jika kita menanyakan tugas yang tersedia pada kepemimpinan gereja. Anda dapat menanyakan pendeta atau penatua tentang posisi pelayanan yang terbuka dan berdiskusi tentang kecocokan Anda dengan tugas yang tersedia.
Klik 👇👇👇
Showing posts with label TEOLOGI. Show all posts
Showing posts with label TEOLOGI. Show all posts
Friday, 17 May 2019
Wednesday, 24 May 2017
MALAIKAT ( PELAYANAN MALAIKAT KEPADA ORANG PERCAYA DALAM PERJANJIAN BARU )
PELAYANAN MALAIKAT KEPADA ORANG PERCAYA DALAM
PERJANJIAN BARU
BAB
I
PENDAHULUAN
Alkitab adalah satu-satunya sumber yang benar
tentang dunia roh. Malaikat dan
pelayanannya, dibahas dengan panjang lebar oleh para penulis Alkitab, baik
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Di dalam Perjanjian Lama, malaikat kadang kala menggantikan atau
mewakili pribadi Allah, untuk menampilkan wujudnya kepada manusia. Atau sebaliknya Tuhan menggunakan wujud
malaikat untuk menyatakan dirinya kepada manusia, yang biasa disebut Malaikat
Yahweh.
Oleh karena pokok bahasan tentang malaikat
sangat luas, maka penulis membatasi pembahasan, hanya pelayanan malaikat kepada
orang-orang percaya di dalam Perjanjian Baru.
Memahami konteks dekat adalah salah satu cara yang tepat yang akan
ditempuh dalam makalah ini. Tujuan
penulis dan maksud pembicara dalam konteks merupakan langkah berikutnya yang
menolong untuk mengerti pelayanan malaikat.
Untuk mengerti dengan baik tentang pelayanan
malaikat dalam makalah ini, maka bagian
pertama yang harus diteliti ialah arti dari kata “malaikat” dan “pelayanan
malaikat yang tergantung pada perintah Tuhan”.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan "malaikat sebagai
makhluk halus pesuruh Tuhan yang mempunyai tugas khusus.”1
Menurut Ensiklopedi Perjanjian Baru:
malaikat (angel)
berasal dari bahasa Yunani aggeloj,
kata yang mempunyai peranan "pembawa berita", "utusan",
tetapi tidak menyatakan kodrat malaikat.
Alkitab mengandaikan eksistensi para malaikat Allah yang menjadi bagian
dari struktur alam ciptaan. Melalui para
malaikat, pandangan kita melampaui dunia yang kelihatan; melalui mereka,
kemuliaan Allah, kehadiran dan transendensiNya menjadi lebih nyata. Pandangan yang terdahulu realistis mengenai
makhluk-makhluk surgawi itu, harus dihindari.
Sebab mereka disebut "kemuliaan-kemuliaan dalam Alkitab.2
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,
mendefinisikannya sebagai berikut:
Malaikat dalam Alkitab (Ibrani mal'akh, Yunani angelos) menurut
etimologi dan pengertian, adalah pesuruh Allah, yang mengenalNya muka dengan
muka, karena itu mempunyai kelebihan dari pada manusia. Malaikat tentu adalah makhluk, tapi suci dan
mantap, walaupun mempunyai kemauan yang bebas dan karena itu bisa terpengaruh
terhadap godaan dan dosa.3
Dengan adanya definisi ini, pembaca dapat
mengenal tentang malaikat, sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, di
kekekalan masa lampau, yang bersifat roh, tidak bertubuh, yang memiliki tugas
khusus dari Allah untuk memuliakan namaNya dan melayani umat Tuhan. Orang percaya boleh menghargai pelayanan
malaikat, namun tidak menyembah.
BAB
II
PELAYANAN
MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG PERCAYA DALAM PERJANJIAN BARU
Alkitab Perjanjian Lama mencatat
pelayanan malaikat kepada umat Allah, namun dalam makalah ini tidak dibahas,
dan hanya menguraikan pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya di dalam
Perjanjian Baru saja.
A. Menolong Dan Membantu Orang Percaya
Penulis Surat Ibrani sedang berbicara mengenai
Yesus Kristus yang lebih tinggi daripada para malaikat. Dengan tegas mengatakan bahwa selain melayani
Allah dan Yesus Kristus, para malaikat memiliki pelayanan yang lain yakni
melayani orang-orang percaya yang telah diselamatkan oleh Tuhan (Ibr.
1:14). Ayat ini tidak memberikan petunjuk
mengenai cara dan bentuk pelayanan para malaikat kepada orang-orang percaya,
oleh karena itu sering disebut sebagai pelayanan yang bersifat umum.
B.
Mengambil Bagian Dalam Jawaban Allah Atas Doa
Ketika terjadi penganiayaan atas orang-orang
Kristen di Yerusalem, Herodes membunuh Yakobus. Pembunuhan itu nampaknya menyenangkan
orang-orang Yahudi, karena itu Herodes melanjutkan niatnya dengan menangkap
Petrus, salah satu murid yang berpengaruh.
Kisah Para rasul 12:4, mengatakan bahwa Herodes merencanakan hal
pembunuhan atas Petrus seperti halnya kepada Yakobus, setelah hari paskah.
Ayat 5b, merupakan titik awal dari tindakan
Allah menolong Petrus keluar dari penjara.
Bermula dari doa yang dipanjatkan dengan tekun oleh jemaat kepada Allah,
kemudian Allah merencanakan yang lain untuk menggagalkan rencana si jahat. “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan
dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruangan itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk
membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!”
Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Lalu kata malaikat itu kepadanya: “Kenakanlah
jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia
mengikuti malaikat itu keluar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan
malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan”
(Kis 12:7-9).
Lukas, penulis Kisah Para Rasul, mengakui
adanya malaikat yang siap melakukan perintah Tuhan untuk melayani jemaat dan
Petrus. Yang datang dan berdiri, menepuk
dan menyelamatkan Petrus dalam perikop ini, bukan pribadi Allah atau salah satu
dari Allah Tritunggal, tetapi malaikat, utusan Tuhan. Sebagai sorang dokter, Lukas percaya adanya
makhluk rohani yakni malaikat, yang melayani orang percaya setiap saat.
Pendeta Yunus BS mengatakan:
Malaikat
itu ada, mereka ikut serta melayani manusia, kita berterima kasih bagi pelayanannya,
tetapi sekali-kali tidak boleh menyembahnya, sebab mereka juga hamba-hamba
Allah seperti kita (Wah 19:10 ;
22:8-9).1
“Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai
keujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus
berkata: “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh
malaikatNya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu
yang diharapkan orang Yahudi.” (Kis 12:10b-11).
Rasul Petrus yang mengenal Tuhan Yesus dengan baik, juga mengenal Bapa
dan Roh Kudus yang dicurahkan belum lama sebelum peristiwa ini terjadi, tidak
mengatakan bahwa Bapa atau Yesus atau Roh Kudus yang datang dan
menyelamatkannya. Dia tahu benar-benar
bahwa malaikatlah yang datang dengan kekuatan dan kuasanya.
Sudah
tentu para malaikat tidak henti-hentinya digunakan untuk mencegah hal yang
jahat dan mengupayakan hal yang baik. Jika Allah menolong manusia melalui
manusia, kita tidak perlu heran bahwa Dia menolong manusia melalui para
malaikat.2
Dengan kekuatan, kuasa, pengetahuan,
kemampuan dan hikmat yang dimiliki oleh malaikat, tidak dapat diragukan, mereka
sanggup mencegah hal-hal yang jahat yang ingin menyerang orang-orang percaya.
C.
Memperhatikan Pengalaman Hidup Orang Kristen
Malaikat sebagai pribadi, sering disejajarkan
dengan pribadi manusia dan juga dengan pribadi Allah yang dapat bertindak dan
memperhatikan segala sesuatu di dalam hidup orang percaya, menurut ajaran
Paulus. Di dalam I Kor 4:9, mengatakan
“. . . sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan
bagi manusia”. Maksudnya ialah: selain
manusia dan makhluk lain di dunia ini, malaikat juga memperhatikan jalan hidup
orang benar. Sama halnya dengan I Tim
5:21, kalimat yang digunakan oleh Paulus untuk menyampaikan pesannya,
memperlihatkan pemahamannya tentang malaikat yang melayani manusia dengan cara
menunjukkan perhatian pada jalan hidup dan pelayanan orang-orang percaya.
Roy H. Hicks mengatakan :
Masing-masing
kita mempunyai malaikat yang ditentukan Bapa dan diberikan untuk menjaga kita
sebagai Penjaga dan Pelindung (Ibrani 1:14 ;
Matius 18:10 ). Malaikat-malaikat itu diberikan kepada kita
waktu lahir, diutus oleh Allah Bapa untuk menjaga kita dan mengusahakan setiap
waktu kehendak Allah yang sempurna tergenapi di dalam hidup kita.3
Dalam kutipan ini, Hicks menekankan usaha malaikat untuk menjaga dan
mengupayakan agar kehendak Bapa tergenapi di dalam hidup orang percaya. Pendapat ini dapat di terima, sebagai bagian
dari tujuan Allah bagi pelayanan para malaikat untuk kebaikan umat Tuhan.
D. Membawa Berita, Menguatkan Dan
Memberi Pengharapan
Menurut penulis, malaikat yang datang
menyampaikan berita tentang adanya pertolongan dari Tuhan, dalam bahaya yang
dihadapi oleh Paulus dan seisi kapal (KPR 27:23-24) adalah untuk memberikan
kekuatan dan pengharapan.
Penyertaan Allah dalam perjalanan Paulus ini,
dinyatakan melalui kehadiran malaikat, sebagai bagian dari pelayanan malaikat
bagi orang yang sedang menghadapi bahaya, yakni memenuhi kebutuhan utama manusia. Berita yang disampaikan kepada Paulus adalah
berita dari surga, sehingga Paulus tidak meragukannya sedikitpun, dan berita
itu terjadi, tidak ada yang binasa diantra mereka.
Dalam
bukunya, Charles dan Frances Hunter menulis:
Dalam kehebatan
kehadiran malaikat-malaikat Allah, saya sering merasa seperti Maria, yang
mengatakan, “Biarlah segala sesuatu yang telah kaukatakan itu terjadi” (Lukas 1:38 , FAYH). Ketika Paulus berkata, “. . . tadi malam
seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang kusembah sebagai milikNya”
(Kis 27:23), dia tahu bahwa hal itu akan
terjadi! Dengan cara yang sama, saya
mengetahui bahwa berita-berita yang berasal dari hati Allah ini senantiasa
merenggut calon penghuni neraka.
Kebenaran-kebenaran itu penting dan nyata! Kehadiran malaikat-malaikat
agung, yang langsung datang dari singgasana Allah, demikian mengagumkan,
sehingga tidak salah kalau seseorang jatuh sujud menyembahnya.4
E.
Menyambut
Jiwa-Jiwa Baru Dalam Kerajaan Allah
Arti dari perumpamaan tentang dirham yang hilang
kemudian ditemukan, dijelaskan oleh Yesus sendiri di bagian akhir perikop ini,
yaitu: “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena
satu orang berdosa yang bertobat” (Luk. 15:10 ). Perkataan “satu orang berdosa yang bertobat”,
mengacu pada orang percaya yang jatuh dalam dosa dan bertobat, dan kepada orang
yang baru dimenangkan untuk kerajaan Allah.
Para malaikat menyambut dan memulai
pelayanannya bagi orang seperti ini.
Malaikat menaruh perhatian atas kegiatan
penginjilan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen (Kis. 8:26 -27).
Dalam peristiwa ini, malaikat Allah memberi petunjuk kepada Filipus
untuk pergi memberitakan Injil kepada seorang sida-sida yang siap menerima
keselamatan dari Tuhan.
F.
Melayani orang benar di saat meninggal
Pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya
tidak hanya pada waktu masih hidup, tetapi juga setelah mati. Alkitab mencatat dua peristiwa yang sama-sama
membicarakan tentang pelayanan malaikat setelah orang percaya mati, baik kepada
Lazarus dan juga kepada Musa. Lukas 16:22 mengatakan: “Kemudian matilah
orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pengkuan Abraham”; dan
Yudas 9, mengatakan: “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu
perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa”. Malaikat masih melayani orang percaya setelah
meninggal.
G.
Melayani Anak-Anak Dari Orang Percaya
Tuhan Yesus menegur murid-muridNya dan
mengingatkan mereka bahwa malaikat anak-anak itu selalu memandang Bapa di
surga. Maksudnya ialah malaikat-malaikat
diutus oleh Bapa untuk melayani anak-anak dan melindungi mereka dari bahaya dan
kejahatan.
Dr. Roy H. Hicks mengatakan:
Ketika Yesus
memberikan peringatan perihal anak-anak dan para malaikat mereka, Dia
mengatakan bahwa malaikat-malaikat mereka, ada di sorga, selalu memandang wajah
Bapa (Mat 18:10 ). Bahkan jika malaikat penjaga itu ditugaskan
untuk melindungi anak-anak anda, dia tidak dapat bertindak menurut kehendaknya
sendiri, tetapi hanya sebagaimana dia menerima perintah dari Bapa.5
Orang percaya yang ingin menikmati pelayanan
para malaikat, hanya dengan menjaga hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Meminta kepada Allah agar Dia mengutus para malaikatNya untuk melayani
kita. Ini adalah bagian dari rencana
Allah dalam hidup kita, yang dapat kita nikmati, seperti halnya dengan
rencanaNya yang lain.
BAB
III
SIKAP
ORANG PERCAYA TERHADAP MALAIKAT
Setelah memahami betapa hebatnya pelayanan
malaikat kepada orang-orang percaya, maka bagian yang harus dibahas adalah sikap
orang percaya terhadap malaikat.
Malaikat tidak setara dengan Allah dan dia bukan Allah. Oleh karena itu, orang percaya tidak boleh
menyembahnya. Di dalam tulisan Yohanes
mengatakan bahwa dia pernah menyembah malaikat, namun malaikat itu sendiri yang
melarang Yohanes untuk menyembahnya.
Wahyu 19:10: “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah
dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba,
sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus.
Sembahlah Allah!”. Malaikat, sebagai
pelayan Allah, dengan tegas dan segera melarang Yohanes untuk menyembahnya, dan
memberi petunjuk yang benar: “Sembahlah Allah”.
Kalimat yang mengatakan: “Janganlah berbuat demikian” artinya jangan
sujud dan menyembahku, kata malaikat.
Malaikat tidak mau dibuang oleh Tuhan kerena menerima penyembahan dari
manusia; dan ia tidak mau kalau Yohanes dihukum karena menyembah yang lain,
selain Allah.
Yohanes yang takjub melihat kehebatan
malaikat, mengulangi kesalahan yang sama dalam Wahyu 22:8-9. Malaikat yang menyadari kedudukannya, tetap
menolak penyembahan Yohanes, hanya Allah yang layak di sembah.
Musa di dalam Keluaran 20:4-5 melarang orang Israel
menyembah yang lain selain Allah, dan menyamakan penyembahan kepada ciptaan
sebagai tindakan membenci Allah (malaikat adalah ciptaan).
Pdt Yusus BS, mengatakan:
Karena ini
kitapun memerlukan pelayanannya, asal kita mengerti dan menjaga tidak
membesar-besarkannya atau menyembahnya.
Jangan berdoa kepada malaikat, hanya kepada Allah. Salah satu cara Allah
menjawab doa anak-anakNya ialah dengan mengirimkan malaikatNya. Dari masa-masa
yang kritis dan sangat sukar, kadang-kadang Tuhan Yesus mengutus
malaikat-malaikat untuk menyatakan diri dan menolong beberapa orang (misalnya
Dan 10:12).1
BAB
IV
KESIMPULAN
Tuhan menciptakan malaikat dengan jumlah yang
tidak terbatas, untuk melayani setiap orang percaya dan orang-orang yang akan
diselamatkan. Disamping apa yang
diajarkan Tuhan kita tentang malaikat-malaikat, para penulis Perjanjian Baru
juga menegaskan bahwa malaikat-malaikat itu benar-benar ada.
Dalam bukunya “Dan Kemudian Aku MelihatNya”, Pdt.
Dr. Samuel Doctorian mengatakan: Mereka sungguh-sungguh nyata, mereka adalah
makhluk-makhluk sorgawi sebagaimana yang anda baca di dalam Alkitab, baik
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. . . . Mereka berada di dunia yang tidak
terlihat di mana mata jasmani manusia tidak bisa melihat dan makhluk-makhluk
sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya.[1]
Menurut catatan dalam Kitab Kisah Para Rasul,
malaikat-malaikat terlibat dalam memberikan pertolongan kepada hamba-hamba
Allah: membuka pintu-pintu penjara bagi rasul-rasul, memimpin Filipus dan
Kornelius dalam pelayanan dan meneguhkan hati Paulus ketika kapal yang
ditumpanginya dilanda badai dalam perjalannya ke Roma.
Pelayanannya kepada anak-anak, dijelaskan oleh
Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.
Penulis lebih setuju kepada pemahaman bahwa hanya anak-anak dari
orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesuslah yang menikmati pelayanan para
malaikat, menjaga dan mengupayakan agar rencana Allah terlaksana. Pelayanan mereka terus berlangsung sampai
pada hari penghakiman.
Orang percaya dapat bekerja sama dengan
malaikat, dengan iman yang teguh kepada Tuhan Yesus, mentaati suaraNya,
mengikuti perintahNya dan mendengarkan bisikan Roh Kudus.
Pelayanan Para malaikat adalah suatu bagian
dari rencana Allah bagi orang percaya, yang dapat dipandang sebagai
anugerah. Pelayanan para malaikat dapat
dinikmati dengan memohon kepada Tuhan agar anugerah tersebut, dicurahkan. Dapat meminta agar Mazmur 34:8 digenapi;
“Malaikat berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia.”
1 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Halaman 620
2 Ensiklopedi Perjanjian Baru, Halaman 278
3 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 2, halaman 15
1Yusuf
BS, Pendeta, Allah, Malaikat dan Setan (Surabaya:
t.p., 1986), hal. 94
2Roy
H. Hicks, Dr., Malaikat Penjaga (Jakarta :
Immanuel, t.t.) hal.
3Dr.
Roy H. Hicks, Malaikat Penjaga (Jakarta :
Immanuel, t.t.), hal. 100.
4Charles
dan Frances Hunter, Kunjungan Utusan Surgawi (Malang: Gandum Mas, 1979),
halaman 33.
5Dr.
Roy H. Hicks, Malaikat Penjaga (Jakarta : Immanuel, t.t.),
hal. 70.
1Pdt Yusus BS, Allah, Malaikat dan Setan (Surabaya:
t.p., 1986), hal. 94-101
[1] Samuel Doctorian, Dan
Kemudian Aku MelihatNya (Jakarta : Adonai, 2000),
hal. 40
Monday, 30 May 2016
HOMILETIKA (belajar berkhotbah secara terstruktur)
1.
Arti
Homiletik
Kata
ini berasal dari bahasa Gerika “Homilia” yang berarti: perundingan, penguraian
atau khotbah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai ilmu
berkhotbah atau pelajaran berbicara dihadapan orang banyak. Homiletik bertujuan
untuk semata-mata hendak menerangkan suatu usaha, supaya khotbah tentang Injil
dan dapat disajikan dengan cara yang terang, nyata dan berkuasa.
2.
Asal
Usul Homiletik
Homiletik
sebenarnya berasal dari benua Timur, yakni bangsa Israel. Hal ini terlukis
nyata dalam kitab suci:
Perjanjian
Lama
a. Ketika
Yehuda memohon kelepasan bagi adiknya Benyamin, maka Yehuda sudah mengatur
dengan baik-baik percakapannya, indah susunannya dan sopan juga tutur katanya.
b. Orang
kedus ialah nabi Musa, yang pandai menerangkan dan menafsirkan sesuatu. Seluruh
kitab Ulangan memuat tentang tafsiran nabi Musa tentang hukum Israel.
c. Selanjutnya
ialah Yotam dengan caranya berkhotbah, contoh seperti yang ditulis dalam
Hakim-hakim 9:7-21 dan ditulis sebagai gurindam.
d. Raja
Daud, ialah dengan menyatakan perasaan hatinya rangkaian syair, dipuji-pujinya
nama Tuhan dalam mazmur dan tahlil.
Begitupun
nabi Yesaya, nabi Yeremia, dan para nabi yang lain adalah orang-orang yang
pandai menguraikan atau mengatur pembicaraan, supaya dapat menguraikan segala
sabda Tuhan.
Perjanjian
Baru
a. Yohanes
Pembaptis, penghubung Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang memiliki
ketegasan dalam tutur katanya tetapi jelas pendiriannya, sebab itu banyak orang
tertarik mendengar khotbahnya, meskipun khotbahnya di padang gurun.
b. Yang
paling istimewa ialah cara Yesus Kristus sendiri yang di mana-mana Ia mengajar
dan berunding dan selalu bercakap dengan susunan kata yang teratur rapi,
sehingga banyak orang yang bersaksi kerena kalimat yang tersusun rapi,
perumpamaan yang mudah dipahami dan Ia sangat cerdik dalam soal jawab dengaan
siapun juga.
c. Demikian
juga Khotbah Para Rasul, tokoh yang menjadi panutan dalam Khotbah Para Rasul
yaitu Paulus dan Petrus yang menyatakan bahwa kepandaian mereka dalam penyusuna
perkataan, sehingga tegas dan mudah dipahami isinya oleh setiap orang.
3.
Apakah
Khotbah Itu?
Khotbah
adalah suatu pembicaraan yang menerangkan jalan keselamatan manusia melalui
Yesus Kristus atau Firman Tuhan yang diterima, dirasakan dan dilakukan oleh
orang tersebut dan kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata supaya menjadi
kesaksian bagi manusia lainnya. Ada hal yang penting dalam berkhotbah yaitu pribadi
yang berkhotbah dan isi khotbahnya. Kedua hal ini tidak boleh
dipisahkan karena khotbah yang tidak diperkuat oleh kelakuan adalah dusta yang
amat besar.
4.
Judul
dan Tema Khotbah
Kalau
pengkhotbah tahu maksud dantujuan khotbanya, alangkah baiknya ia menjelaskan
kepada pendengarnya soal apakah yang hendak dikhotbahkannya. Jika tidak, pasti
pendengar sendiri memberi judul kepada khotbah itu, baik juga kalau ia
memberikan judul yang bener tetapi kalau tidak! Hal itu akan menjadi penyesalan
belaka. Sebaiknya juga pengkhotbah memberikan sebuah judul yang selaras dengan
isi khotbah seperti basi berani bagi pendengarnya.
Bagaimana
cara mendapatkan tema dan member judul yang selaras dengan isi khotbahnya? Maka
dengan demikian pengkhotbah harus memeriksa bunyi ayat atau pasal yang hendak
dikhotbahkan. Dalam suatu ayat atau pasal, terdapat beberapa ucapan yang
meberikan tekanan lebih dari ayat-ayat lain. Maka dengan itu hendaklah ucapan
itu dipakai senagai tema atau menjadi pokok pembicaraan dan dari situ juga
pengkhotbah mendapatkan judul yang sesuai.
5.
Arah
Tujuan Khotbah
Seorang
pengkhotbah bukan saja harus menyediakan baik-baik isi khotbahnya, melainkan
harus juga menjaga supaya khotbahnya tetap pada suatu jurusan tertentu. Tujuan
yang terbaik dalam khotbah ialah: Yesus Kristus dengan segala pekerjaan-Nya
yang sudah genap dan sempurna. Khotbah semacam ini yang sering dipakai roh
kudus untuk mendatangkan mujizat dalam pertobatan, yaitu seorang pendosa
menangisi dosanya, lali menghampiri Tahta Anugerah Yesus memohon pengampunan
dosa. Selain bertujuan tetap, hendaklah khotbah juga mengenai keperluan dan
kebutuhan para pendengar.
6.
Memilih
Ayat Mas
Sekali-kali
jangan gegabah atau ceroboh apabila mengambil sebuah ayat mas sebagai dasar
pembicaraan dalam khotbah. Karena dasar itulah yang menentukan apakah
khotbahnya akan diabaikan atau diperhatikan orang. Sebab, ada juga yang tidak
boleh gegabah dipakai, ada juga yang tidak selaras dengan tiap kejadian dan
tiap waktu. Kesalahan yang sering terjadi ialah kecerobohan memakai ayat mas
atau dasar pembicaraan khotbahnya. Jadi, bagaimana cara memperoleh ayat mas,
dasar pembicaraan kita? Yang perlu dilakukam ialah meminta bimbingna dari
Tuhan, membuat buku pribadi tentan ayat kitab sucu yang kelak akan dapat
membantu.
7.
Menyediakan
Bab dan bagian-bagianya
Setelah
menemukan ayat mas, tibalah saatnya untuk menyediakan bab dan bagian-bagiannya
atau pokok-pokoknya. Kalau begitu, bagaimana mencari bab dan bagian-bagian atau
pokok-pokoknya:
a. Dengan
cara memeriksa ayat sebelum dan sesudahnya, kadang-kadang kita menemukan
pokok-pokok yang diperlukan.
b. Dengan
jalan menguraikan ayat ma situ sendiri, kata demi kata, kadang-kadang kita akan
memperoleh garis-garis besar yang diperlukan.
c. Kadang-kadang
dengan menambahkan sebagian pernyataan, kita menemukan pokok yang diperlukan.
d. Kadang-kadang
juga dengan mengganti penekanan kata-kata dalam susunan ayat mas tersebut,
sehingga mendapat bagian yang tepat.
8.
Tiga
Syarat Dalam Hal Berkhotbah
a. Tulus,
lebih dahulu pengkhotbah hendaklah seseorang yang tulus dala persekutuan dengan
Tuhan Yesus. Dalam hal ini tulus dapat dilihat dalam ketulusan dalam berdoa,
tulus membaca Alkitab, tulus dalam jabatan, pekerjaan, dan terlebih tulus dalam
berkhotbah dengan menerangkan Firman Tuhan dengan yang sebenarnya. Agar tulus
dalam berkhotbah, pertama-tama kita harus mengerti baik-baik ayat mas, kita
harus mengetahui dengan pasti ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat mas, semua
ayat itu harus dipahami maksudnya dan terangkan bagaimana semestinya.
b. Lurus,
banyak bagian dan bab dalam sebuah khotbah, tetapi maksudnya hanya sebuah saja
dan semua keterangan menjelaskan tujuan ayat mas yang dijadikan dasar
pembicaraan. Kadang-kadang ada juga orang yang berkhotbahdengan memakai banyak
ungkapan atau kiasan untuk menyampaikan
maksud dan tujuannya. Maka dengan itu yang perlu kita lakukan ialah:
a) Lurus
dalam menguraikan tujuann ayat mas
b) Lurus
mengikuti bab dan bagian-bagiannya
c) Lurus
dalam menyusun cerita.
c. Bagus,
bukan saja artinya permai atau indah, melainkan berarti juga jelas, lancer,
tidak kalut, berurutan, tidak lintang pukang, tetapi terang-benderang, tidak
campur-baur, tetapi lurus teratur.
9.
Pendahuluan
Atau Pembukaan Khotbah
Pada
umumnya khotbah terdiri dari tiga bagian/rangkaian yaitu:
a. Pendahuluan
sebagai daya tarik khotbah
Dalam
hal ini, pendahuluan yang tepat dipakai menarik perhatian agar awal dari
khotbah yang akan disampaikan memberikan rasa penasaran dan perhatian para
jemaat. Jika dalam permulaan tidak diawali agar pendahuluan yang menarik
perhatian jemaat mungkin sampai khotbah selesai mereka sama sekali tidak
memerhatikan pengkhotbah sehingga yang disampaikan oleh pengkhotbah sia-sia.
b. Pendahuluan
sebagai penyuluhan tema khotbah
Dapat
kita artikan bahwa pendahuluan itu sebagai pelopor atau pandu yang menerangi
tema atau pokok khotbah. Hal ini sama dengan orang yang berkenalan satu sama
lain dalam pertemuan pertama, hal ini yang menjadi suatu pendahuluan atau permulaan
dalam berkenalan atau juga dalam berkhotbah.
10.
Penutup
Atau Kesimpulan
Perkataan
kesimpilan berarti pertemuan tali pengikat yang diikat berat. Apabila kita
mengikat sesuatu, ujung tali bertemu satu dengan yang lain, lalu kedua ujungnya
disambungkan menjadi sebuah ikatan. Dengan ini kita mengerti bahwa kesimpulaan
khotbah ialah ikatan dari bab dan bagian-bagian yang telah diururaikan supaya
terikat dan terkunci menjadi satu. Beberapa macam penutup atau kesimpulan yang
dapat kita terapkan dalam berkhotbah, mengulangi
ayat mas dan mengajak pendengar bertekun sehingga tergerakkan hati mereka
dan dengan demikian mereka dibawa dan diantarkan kepada jalan keselamatan. Menyampaikan secara ringkas sebagian isi
khotbah yang ditekankaan supaya dapat menyadarkan pendengar dan ia juga
akan merasakan batapa indah Firman Tuhan itu. Mencertakan kisah pendek atau
pengalaman pribadi dalam hal ini kisah atau pengalaman pribadi yang akan
disampaikan harus sesuai dengan jalur khotbah
yang disampaikan. Mengucapkaan sebuah syair atau nyanyian dalam pengambilan
syair alangkah baiknya syair ataupun nyanyian yang umum sehingga pendengar
tidak bingung.
11.
Isi
atau tubuh khotbah (A)
Yang
patut kita perhatikan ialah agar khotbah itu menjadi semakin jelas atau
berkembang dari satu bagian ke bagian lain. Demikian halnya dengan berkhotbah,
dalam bagian pertama yang harus kita terangkan: apa, mengapa, bagaimana, apa akibatnya? Dengan cara begini sebagian
demi bagian khotbah itu semakin jelas.
a. Apa?
Pada bagian ini dapat diisi dengan berbagai keterangan atau penjelasan mengenai
soal yang akan diperbincangkan.
b. Mengapa?
Disini kita harus berpikir dengan cerdas, mengatur dengan baik dan menyusun
dengan rapi segala percakapan, kaena disini kita harus menjawab sebab-sebab
soal yang akan diperbincangkan itu.
c. Bagaimana?
Jadi apa dan mengapa sudah kita terangkan , maka dengan menegaskan bagaimana
sesuat itu.
d. Apa
akibatnya? Pada bagian ini menerangkan bagaimana kesudahan semua uraian tadi.
12.
Isi
Atau Tubuh Khotbah (B)
Khotnah
memiliki aneka ragam sifat, misalnya: khotbah pengajaran, ajakkan, nasihat,
kebaktian, peumpamaan, kesaksian, dan khotbah penuturan tetapi jenisnya hanya
ada tiga saja. Pertama, penguraian ayat mas dimana ayat tersebut diuraikan
sedemikian rupa. Kedua, penguraian suatu pokok dimana suatu topik atau pokok
yang diuraikan dengan menggunakan ayat-ayat yang diperlukan. Ketiga, penguraian
ayat demi ayat tidak terfokus pada satu ayat mas saja.
13.
Isi
Atau Isi Khotbah (C)
Kebanyakkan
pengkhotbah yang kurang memahami mempergunakan cara naik mimbar. Mereka
berperangsangka bahwa menyusun khotbah suatu pekerjaan ringan. Tetapi ada sebab
kenapa khotbah ini dikatakan sudah mendapatkan nama yang kurang baik. Karena
kebanyakkan pengkhotbah menyajikan khotbah ayat demi ayat dengan cara
serampangan sehingga pendengar merasa jemu dan tidak menyukai cara ini. Contoh:
a. Kadang-kadang
karena kurang paham atau kurang pengalaman, seorang pengkhotbah hanya
mengulangi cerita yang tertulis dalam Alkitab.
b. Kadang-kadang
karena kemalasan berkhotbah sehingga ia menerangkan ayat demi ayat tetapi ia
sulit melomptinya.
c. Kadang-kadang
juga karena takut.
Almrhum
Dr. Jaffray memiliki cara untuk berkhotbah tafsiran:
a. Pada
saat membaca suatu pasal, terlebih dahulu membagi pasal tersebut menjadi
beberapa bagian.
b. Lalu
cari bagian pasal yang akan dikhotbahkan setelah itu cari exegetical,
doctrinal, dan practical.
c. Mencari
tema yang tidak terlalu panjang atau memuat beberaapa maksud agar mudah diingat
dan dimengerti.
d. Jangan
menggunakan kata-kata yang tinggi sehingga pendengar sulit mengerti.
14.
Cerita
Pendek Atau Lukisan Dalam Khotbah (Ilustrasi)
Tuesday, 24 May 2016
PENGGENAPAN DAN PENERRAPAN PENEBUSAN
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
DEFINISI
PENEBUSAN
Penebusan
Dapat Diperoleh
1.
Anugerah
Khusus
2.
Anugerah Umum
BAB III
PENGGENAPAN
DAN PENERPAN PENEBUSAN
1. Penerapan
Penebusan
2. Penggenapan
Penebusan
BAB IV
KESIMPULAN
BAB II
PENDAHULUAN
Pada bagian ini
penulis menjelaskan tentang “Penggenapan dan Penerapan Penebusan”. Maka dengan
demikian, penulis mengajak para pembaca agar dapat memahami tentang bagian
“penebusan” ini. Sehingga apa yang akan di bahas dalam bagian makalah ini dapat
memberkati para pembacanya.
Banyak hal yang
menjadi pembelajaran dalam makalah ini, mulai dari definisi penebusan, cara
penggenapan dan pernerapan penebusan itu sendiri dalam kehidupan orang yang
percaya akan kebenaran Kristus. Hal-hal inilah yang menjadi pembelajaran
penting yang perlu dilakukan oleh orang percaya. Maka dengan demikian kita
sebagai orang percaya akan hidup dalam perlindungan dan penyertaan Yesus
Kristus Jurus Selamat kita sebagai orang percaya.
Maka dengan itu,
penulis mengajak pembaca untuk dapat memahami dan mengetahui lebih lanjut
tentang penebusan ini agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari
sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis satu dengan yang lain terutama
dengan Tuhan Allah kita. sehingga kita terus memuliakan nama Tuhan kita yaitu
yesus Kristus sang penebus manusia.
Selamat
membaca!!
BAB
II
DEFINISI
PENEBUSAN
Kata
“Penebusan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata
“tebus”, kata tebus ini diartikan membayar dengan uang kembali barang yang
tergadai, selain itu tebus juga memiliki makna “membebaskan” tawanan ataupun
budak. Menebus juga dapat diartikan sebagai usaha penyelamatan jiwa. Dalam
Teologi Kristen penebusan merujuk pada
memaafkan atau mengampuni dosa melalui kematian Yesus Kristus dengan penyaliban-Nya yang pada akhirnya
memungkinkan adanya pendamaian antara Allah dan ciptaan.
Dalam
Alkitab juga terdapat kata “penebusan”, penebusan ini mengandung arti yang
sangat penting yang berkaitan erat dengan diri manusia. Maka dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa penebusan itu merupakan suatu tindakan pembebasan dari Allah
terhadap manusia. Berhubungan dengan konsep Kristiani mengenai penebusan
adalah istilah harga tebusan. Yesus membayar harga pembebasan manusia dari dosa (Matius 20:28; 1 Timotius 2:6). Kematian-Nya adalah untuk menggantikan hidup manusia. Kenyataannya Kitab Suci amat jelas dalam hal bahwa
penebusan hanya mungkin terjadi “melalui darah-Nya” (yaitu
melalui kematian-Nya)[1].
Jalan-jalan
di surga dipenuhi oleh orang-orang yang dulunya adalah tawanan, yang tanpa jasa
mereka sendiri, mendapatkan pengampunan dan kebebasan. Para budak dosa sekarang
adalah orang-orang suci. Tidak heran mereka menyanyikan nyanyian baru –
nyanyian pujian kepada sang Penebus yang telah disembelih (Wahyu 5:9). Kita
dulunya adalah hamba-hamba dosa, dihukum untuk terpisah selama-lamanya dari
Allah. Yesus membayar harga untuk menebus kita, menghasilkan kebebasan kita
dari perbudakan dosa, dan penyelamatan kita dari konsekwensi kekal dari dosa
itu.
Penebusan
Dapat Diperoleh
1.
Anugerah Umum
Menurut para revisionis,
predestinasi ganda tidak konsisten dengan universalitas kasih Allah. Karena
jika hanya sebagian orang yang ditentukan selamat, berarti kasih Allah tidak
universal. Maka predestinasi ganda mau direvisi menjadi predestinasi tunggal
atau bahkan tidak ada predestinasi sama sekali meskipun kedaulatan Allah tetap
diakui.
Menurut Shedd, ajaran tentang predestinasi ganda konsisten
dengan universalitas kasih Allah. Pertama, Kalvinisme dari WS mengikuti Alkitab
yang mengajarkan kedua hal tersebut. Menurut Shedd, konsistensi kedua hal itu
memang tidak dapat diselami namun itu harus diterima, sebab firman Allah sudah
menyatakannya. Kedua, terdapat
derajat kasih Allah dalam anugerah umum dan anugerah khusus. Walau keduanya
merupakan wujud kasih Allah, yang pertama lebih rendah dari yang kedua. Jika
Allah tidak memberikan kasih tertinggi-Nya kepada orang berdosa, itu bukan
berarti Ia tidak mengasihinya. Allah mengasihi semua orang dan buktinya Ta
sudah memberikan anugerah umum kepada mereka. Namun ketika anugerah umum itu
ditolak karena kehendak manusia yang cenderung kepada dosa, Allah tidak lagi
wajib untuk memberikan anugerah khusus dan ini tidak berarti Ia tidak mengasihi.
Roh Kudus memakai firman untuk menginsyafkan manusia berdosa
supaya bertobat dan Ia
mendorong orang yang diinjili untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Yesus telah
menjadi kurban yang memadai bagi pengampunan dosa setiap orang. Ini semua
merupakan rahmat kepada manusia secara universal supaya manusia bertobat dari
dosa-dosanya (bdk. Rom 2:4f).
Allah betul-betul menginginkan supaya orang berdosa mendengar panggilanNya. Ia
ingin anugerah umum berhasil dan diterima manusia. Dengan kata lain, Ia ingin
menyelamatkan semua orang berdosa.
1) Anugerah Umum dan Orang Berdosa
Dilihat dari statusnya, manusia
adalah orang berdosa dan sebenarnya tidak layak menerima kasih Allah. Hak
satu-satunya adalah hukuman kekal yakni kematian. Tapi nyatanya, Allah
mengasihi manusia berdosa. Ia memberikan anugerah umum kepada mereka. Dilihat
dari kondisinya, kehendak manusia terbelenggu oleh dosa (hal 21). Kehendaknya
selalu terarah kepada dosa, bukan kepada Allah. Jadi, secara positif
manusia cenderung kepada dosa, dan secara negatif menolak Allah. Akibatnya,
manusia diinjili atau tidak, akan menolak dan menyia-nyiakan anugerah umum. Ia
tidak mau dan tidak mampu percaya.
2) Anugerah Umum dan Keselamatan
Pemeliharaan Allah, firman tertulis
maupun tidak tertulis, dan karya Roh Kudus secara umum merupakan rahmat Allah
bagi semua manusia secara umum. Semua itu dimaksudkan supaya manusia bertobat
dan selamat. Kepada mereka yang mendengarkan Injil, firman tertulis dan karya
Roh Kudus menginsafkan mereka akan dosa dan perlunya bertobat, seperti yang
dilakukan kan firman tidak tertulis dan karya Roh Kudus atas mereka yang tidak
mendengar Injil. Jadi, anugerah umum juga menuntun kepada keselamatan namun
bersyarat.
Ketiga kategori ini intinya adalah
inisiatif Allah, sasarannya adalah keselamatan semua orang, namun respon
manusia ternyata menolak anugerah umum. Tuntutan kepada pihak manusia untuk
bekerjasama dengan anugerah Allah nyatanya tidak terpenuhi, sehingga
keselamatan dalam anugerah umum bersifat hipotetis. Lain dengan keselamatan
dalam anugerah khusus yang bersifat kategoris. Dalam anugerah khusus, inisiatif
tetap pada Allah namun sasarannya adalah keselamatan dari kaum pilihan, dan
responnya percaya dan bertobat. Dalam anugerah umum manusia hanya didorong
untuk percaya dan bertobat, sedangkan dalam anugerah khusus Roh Kudus
menjadikan manusia mau, mampu percaya, dan bertobat. Dalam anugerah umum
dorongan Roh Kudus tidak disertai karya lahir baru, sedangkan dalam anugerah
khusus dorongan itu menghasilkan kelahiran baru. Dalam anugerah umum keputusan
manusia diambil dalam kondisi yang berdosa sehingga ia bersikap negatif
terhadap tawaran keselamatan, sedangkan dalam anugerah khusus meski manusia
berdosa yang membuat keputusan, Roh Kudus telah melahirbarukan dan mendorong
yang bersangkutan sehingga ia bersikap positif terhadap tawaran keselamatan.
2.
Anugerah
Khusus
Seringkali ada kecenderungan pada
orang-orang Kristen untuk tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Mereka baru
sungguh-sungguh mencari saat mereka menghadapi krisis. Kita melihat pola yang sama
ini terjadi pada bangsa Israel di Perjanjian Lama. Ini merupakan alasan utama
mengapa banyak orang seolah-olah terus-menerus berada dalam krisis, seperti
dikatakan dalam:
Matius 7:21-27:
7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk
ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di
sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu,
dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan
berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
pembuat kejahatan!"
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,
ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda
rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak
melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas
pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda
rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Seperti kita
baca di ayat tersebut, hanya memanggil Yesus Tuhan tidak menjamin kita masuk ke
dalam kerajaan surga. Kita harus melakukan kehendak-Nya. Memanggil-Nya Tuhan
namun tidak melakukan kehendak-Nya berarti sama dengan orang yang tidak percaya.
Bagaimana mungkin kita berkata bahwa kita benar-benar mengenal Raja segala raja
yang mulia namun tidak pernah melakukan apa yang dikatakan-Nya? Mengetahui
bahwa Dia adalah Allah, namun tidak mentaati-Nya sama saja dengan khayalan yang
menipu diri sendiri. Khayalan ini telah menuntun ke dalam berbagai tragedi dan
kegagalan saat seseorang harus menghadapi badai kehidupan.
Oleh sebab itu, salah satu pencarian
utama kita seharusnya ialah untuk mendengar perkataan Tuhan. Sebagaimana kita
diberi tahu dalam Yohanes 10:4, Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia
berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka
mengenal suaranya. Dengan kata lain, jika kita tidak mengenal suara-Nya kita
tidak akan mengikuti Dia. Tetapi mendengar perkataan-Nya dan mentaati-Nya
adalah dua hal yang berbeda. Banyak orang yang bermegah karena mereka begitu
baik dalam mendengar suara Tuhan, tetapi mereka tidak pernah melakukan apa yang
difirmankan-Nya. Kita harus menunjukkan bahwa firman Tuhan merupakan harta
kekayaan yang tidak terukur dan ternilai. Ketika Tuhan memberi kita petunjuk,
kita harus terus mengingat dan merenungkannya, serta sering mengkaji ulang
untuk melihat sejauh mana kita sudah menuruti petunjuk-petunjuk Raja kita.
Jika Anda bingung tentang cara
mendengar suara Tuhan, maka kembalilah dan tinjau kembali hal-hal yang Anda
ketahui sebagai kehendak Tuhan. Hal-hal tersebut seperti doa, membaca Alkitab,
persekutuan dan semua petunjuk yang jelas diberikan kepada kita dalam Kitab
Suci. Saat kita mentaati semua itu, kita akan mulai berjalan dalam terang, dan
terang itu akan membuat jalan kita dan suara-Nya menjadi semakin jelas. Seperti
yang dikatakan dalam Amsal 4:18, Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya
fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
Jika kita berada di jalan yang
benar, segala sesuatu pasti menjadi lebih terang. Jika kita berada di jalan
yang salah, maka segala sesuatunya akan menjadi semakin gelap dan semakin
membingungkan. Jika jalan kita tidak menjadi semakin terang dan jelas setiap
hari, maka berarti kita telah menyimpang dari jalan yang benar. Di dalam Tuhan,
jalan yang salah tidak pernah menjadi jalan yang benar. Satu-satunya jalan bagi
kita untuk kembali ke jalan yang benar ialah untuk kembali ke titik di mana
kita membuat belokan yang salah. Itulah yang disebut dengan pertobatan.
Pertobatan bukan saja merupakan
suatu tindakan yang baik; pertobatan adalah salah satu kebenaran Kristen
terbesar. Bersama Kristus kita dapat kembali ke titik di mana kita membuat
kesalahan, membereskannya, dan memulai kembali. Dalam Kisah Para Rasul 11:18,
kita membaca tentang tanggapan orang-orang percaya Yahudi setelah mendengar
kesaksian Petrus saat ia pergi ke rumah Kornelius, Ketika mereka mendengar hal
itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada
bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada
hidup." Tujuh kata yang paling kuat penekanannya dalam Kitab Suci
ditemukan dalam ayat ini: "Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin
kepada hidup." Pertobatan adalah anugerah khusus yang Allah karuniakan,
dan anugerah itu memimpin kepada hidup.
BAB
III
PENGGENAPAN
DAN PENERAPAN PENEBUSAN
1.
Penggenapan
Penebusan
Dalam
penggenapan penebusan ini banyak hal yang dapat menjadi sesuatu pembelajaran
bagi kita sebagai orang yang percaya, dan itu juga dapat kita aplikasikan dalam
kehidupan kita sehari-hali dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat luas.
Salah satu yang dapat kita lakukan adalah:
A. Keharusan
pendamaian
Penggenapan
penebusan berkenaan dengan apa yang sering kali di sebut atau kita ketahui
yaitu Pendamaian. Dan disini juga kita dapat memperoleh pewahyuan Ilahi yang
Ultimat dan dengan demikian mendapatkan pemikiran manusia yang ultimat pula. Dalam
pikiran manusia yang ultimat tidak mengesampingkan karakterisasi lebih lanjut
dari kasih Allah. Alkitab bantak memberitahukan kepada kita orang percya bahwa
kasih Allah yang merupakan sember dari pengaliran pendamaian yang dari pada-Nya
pendamaian itu tere4kpresikan, juga merupakan kasih yang berbeda dari Allah
dari pada yang lainnya.
B. Natur
pendamaian
Dalam natur
pendamaian kita sebaiknya menemukan beberapa kata gori yang menyeluruh dalam
berbagai aspek pengajaran Alkitab dapat dimasukkan ke dalam katagori yang lebih
luas. Aliktan memandang karya Kristus sebagai suatu ketaatan atau konsep yang
mernuju ketraatan yang begitu seringnya dengan tujuan untuk menjamun kesimpulan
bahwaketaatan itu bersifat umum, dan olek kerenanya bersifat cukup menyeluruh
untuk bisa dipandang sebagai prinsip penggalan dan pemersatu.
C. Jangkauan
pendamaian
Pernyataan
mengenai jangkauan pendamaian sangatlah sederhana: bagi siapakah Yesus
mengadakan pendamaian? Atau dengan bahasa yang lebih sederhana lagi yaitu:
untuk siapakah Kristus mati? Dalam hal ini Alkitab memberikan jawaban yang
tidak membingungkan yaitu dengan berkata bahwa Kristus mati untuk semua orang.
Namun demikian, dengan berbagai pendapat yang mendukung pernyataan ini dari
awal sampai akhirAlkitab menggunakan ekspresi yang universal tetapi tidak dapat
ditafsirkan dengan arti manusiawi.
Dari berbagai
penjelasan diatas hanya ada satu sember yang sah bagi kita untuk menarik konsep
yang benar tentang karya penebusan Kristus sumber itu hanyalah Alkitab.
Pencobaan selalu berusaha mengintari kita untuk membuktikan ketidaksetiaan
terhadap kriterial yang satu dan hanya satu-satunya ini. Tidak ada pencobaan
yang lebih mendetail dan begitu kuat dari pada kecenderungan mengonsepkan
penebusan dalam pengertian pengalaman pribadi manusia dan dengan demikian
menjadikan pengalaman bagi kitasebagai norma.
2.
Penerapan
Penebusan
A.
Ordo Terapan
Provisi
yang Allah sediakan di dalam pemeliharaan-Nya demi mempertahankan dan
memberikan kenyamanan bagi manusia dan binatang tidak diberikan secara pelit
ataupun sebagian-sebagian saja. Ia telah menciptakan dunia ini penuh dengan
hal-hal baik yang mencukupi kebutuhan manusia dan binatang dalam memenuhi
berbagai selera dan keinginan mereka. Provisi yang Allah kerjakan bagi
keselamatan manusia dinyatakan dengan lebih melimpah lagi, provisi ini
mengungkapkan keberbagaian kebutuhan manusia dan memamparkan limpahnya
kepenuhan kebijakkan, hikmat, anugerah, dan kasih Allah. luar biasanya
kelimpahan ini tampak di dalam ketetapan kekal Allah berkenaan dengan masalah
keselamatan, tampak di dalam penggenapan penebusan secara historik melalui
karya Kristus yang satu kali untuk selamanya dan tampak dan penebusan yang
berlanjut dan terus berkembang sampai
mencapai kesempurnaannya di dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
B. Panggilan Efektif
Ada
alasan-alasan yang kuat untuk mempercayai bahwa penerapan penebusan dimulai
dengan efektif Allah kepada orang-orang berdosa yang telah mati karena
pelanggaran dan dosa mereka. Alasan menempatkan panggilan Allah di tempat
pertama menjadi pertimbangan kita setelah kita menyorotin pengajaran Alkitab
tentang panggilan efektif. Panggilan semacam ini seringkali disebut sebagai
panggilan universal dari Injil yang ditunjukkan kepada semua orangtanpa
pembedaan yang jelas. Untuk menunjukkan pemaparan universal sebagai panggilan
universal bukanlah tidak tepat, ini merupakan satu kemungkinan kuat bahwa
panggilan.
C. Iman dan Pertobatan
Iman
adalah aktivitas dari pihak manusian dan hanya di pihak manusia saja karena di
dalam iman kita menerima dan bersandarhanya kepada Kristus, untuk memperoleh
penebusan. Jaminan iman seperti yang kita akan lihat nanti merupakan seluruh
gerakkan dari seluruh jiwa dari komitmen dari kepada Kristus untuk keselamatan
dari dosa dan semua akibatnya. Iman yang membawa kepada keselamatan adalah iman
penyesalan dan pertobatan kedalam hidup adalah pertobatan karena percaya.
Pertobatan ke dalam hidup adalah anugerah keselamatan , di mana seorang yang
berdosa keluar dari pengertian dosa-dosanya yang sesungguhnya, dan menerima
kemurahan Allahdi dalam Kristus yang dengan kesedihan dan kebencian yang
sungguh terhadap dosanya, telah berpaling darinya kepada Allah dalam arti yang
sepenuhnya sambil berusahakeras mengikuti ketaatan yang baru.
D. Ketekunan
Ketekunan
merupakan doktrin yang menekankan bagaimana orang-orang percaya bertekun dalam
imannya. Dalam hal ini tidak boleh ditekankan bahwa doktrin ini merupakan
ketekunan orang suci, karena pengertian “orang suci” adalah mereka yang
dipersatukan dengan Kristus melalui penggilan efektif Allah Bapa dan tinggalnya
Roh Kudus dalam diri orang itu sehingga menjadikan dia dapat bertekun pada
akhirnya. Tetapi Alkitab menyediakan konfirmasi tambhan tentang ketekunan ini
yaitu baik untuk mengingatkan perkataan yang tidak pernah diucapkan oleh Tuhan
Yesus yang datang dari sorga untuk menjalankan kehendak Dia yang telah
mengutus-Nya, yaitu bahwa semua orang telah diserahkan Bapa-Nya kepada-Nya.
E. Kesatuan
Dengan Kristus
Kesatuan dengan
Kristus pada diri sendri adalah suatu topik yang sangat besar dan akan merangkul
yang lainnya. Kesatuan dengan Kristus ini didasarkan dengan setiap
langkah-langkah dari penerapan penebusan dan merupakan suatu
kesungguh-sungguhan kebenaran sentral dari seluruh doktrin keselamatan, bukan
hanya soal penerapannya tetapi juga penggenapannya melalui Kristus yang satu
kali untuk selamanya.
F. Pemulihan
Pemulihan ini
merupakn suatu penyempurnaan dari seluruh proses yang dimulai dari panggilan
efektif dan merupakan akhir dari seluruh proses penebusan. Pemulihan ini
berarti tercapainya tujuan akhir dari setiap umat pilihan Allah yang telah
dipilih seturut maksud kekal Bap dsan melingkupin penggenapan penebusan yang
dijamin dan dikerjakan oleh karya pengorbanan Yesus Kristus. Dalam hal ini
perlu diperhatikan bahwa pemulihan bukanlah berkat yang diterima oleh roh orang
percaya ketika ia mati, walupun benar bahwa roh orang-orang kudus terpisah
dengan tubuhnya tetapi ia akan dijadikan sempurna di dalam kekudusan dan segera masuk hadirat
Kristus.
KESIMPULAN
Dalam kekristen
penebusan merujuk pada memaafkan atau mengampuni dosa melalui kematian Yesus
Kristus dengan penyaliban-Nya yang pada akhirnya memungkinkan adanya pendamaian
antara Allah dan ciptaan. Dalam Alkitab juga terdapat kata “penebusan”,
penebusan ini mengandung arti yang sangat penting yang berkaitan erat dengan
diri manusia. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penebusan itu
merupakan suatu tindakan pembebasan dari Allah terhadap manusia.
Untuk mencapai
penggenapan dan penerapan penebusan banyak hal yang penting untuk diperhatikan
dan hal-hal ini sangat menunjang dan member pengertian luas kepada pembaca atau
orang percaya bahwa, segala sesuatu yang akan terjadi merupakan kehendak Allah
dan tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut. Hal bertujuan agar pembaca dapat
memahami bagaimana cara Tuhan dalam menyempurnakan atau mengayomi ciptaan-Nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)