Klik 👇👇👇

Showing posts with label TEOLOGI. Show all posts
Showing posts with label TEOLOGI. Show all posts

Friday, 17 May 2019

Tanggung Jawab Sebagai Orang Kristen

Setiap orang Kristen telah diberi setidaknya satu karunia rohani yang dapat digunakan untuk melayani jemaat tubuh Kristus. "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin" (1 Petrus 4:10-11; bandingkan dengan Efesus 4:11-16). Jadi, langkah penting dalam menetapkan cara seseorang melayani dalam gereja adalah mencari tahu karunia rohani yang dimilikinya. Namun kita tidak perlu menunda terlibat dalam gereja hanya karena belum mengetahui jenis karunia rohani yang kita miliki. Sebaliknya, kita sering menemukan karunia rohani kita ketika kita sedang melayani. Berbagai jenis karunia rohani telah didaftarkan dalam Roma 12:6-8 dan 1 Korintus 12:4-11,28.
Ada perbedaan di antara Tubuh Kristus secara global (1 Korintus 12:12-13) dan gereja lokal yang dihadiri umat Kristen guna beribadah bersama (Ibrani 10:25). Akan tetapi, tidak ada perbedaan dalam cara orang Kristen menggunakan karunia rohani mereka, karena melayani Allah adalah kewajiban dua puluh empat jam, bukan hanya kegiatan di hari Minggu. Semua orang Kristen dimanapun juga sudah sepatutnya melayani Allah dalam gereja lokal mereka dan mencari kesempatan untuk melayani di luar bangunan gereja (2 Korintus 9:12-13). Mungkin saja kita kesulitan menemukan karunia rohani khusus yang Allah berikan pada kita, namun adalah jauh lebih baik untuk melayani daripada tidak melayani (Roma 12:11). Seringkali, penemuan karunia rohani semakin jelas ketika kita sedang bertindak - ketika kita sedang menjalankan berbagai tugas, kita menyadari keahlian kita dan ketertarikan pada bidang tertentu (1 Tawarikh 28:9).

Akan selalu lebih banyak kebutuhan dibanding pekerja yang bersedia; hal ini benar pada jaman Kristen dan masih bersifat demikian pada jaman ini (Matius 9:37). Kita tidak mungkin kesulitan mencari kebutuhan yang belum terpenuhi dalam gereja lokal kita. Baik melalui penginjilan komunitas terdekat (yang diamanatkan Yesus kepada semua orang Kristen, Kisah 1:8) sampai dengan membersihkan kamar mandi, akan selalu ada saja tugas yang perlu dilakukan. Ada baiknya jika kita menanyakan tugas yang tersedia pada kepemimpinan gereja. Anda dapat menanyakan pendeta atau penatua tentang posisi pelayanan yang terbuka dan berdiskusi tentang kecocokan Anda dengan tugas yang tersedia.

Wednesday, 24 May 2017

MALAIKAT ( PELAYANAN MALAIKAT KEPADA ORANG PERCAYA DALAM PERJANJIAN BARU )


PELAYANAN MALAIKAT KEPADA ORANG PERCAYA DALAM 
PERJANJIAN BARU

BAB I
PENDAHULUAN

             Alkitab adalah satu-satunya sumber yang benar tentang dunia roh.  Malaikat dan pelayanannya, dibahas dengan panjang lebar oleh para penulis Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Di dalam Perjanjian Lama, malaikat kadang kala menggantikan atau mewakili pribadi Allah, untuk menampilkan wujudnya kepada manusia.  Atau sebaliknya Tuhan menggunakan wujud malaikat untuk menyatakan dirinya kepada manusia, yang biasa disebut Malaikat Yahweh.
             Oleh karena pokok bahasan tentang malaikat sangat luas, maka penulis membatasi pembahasan, hanya pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya di dalam Perjanjian Baru.  Memahami konteks dekat adalah salah satu cara yang tepat yang akan ditempuh dalam makalah ini.  Tujuan penulis dan maksud pembicara dalam konteks merupakan langkah berikutnya yang menolong untuk mengerti pelayanan malaikat.
             Untuk mengerti dengan baik tentang pelayanan malaikat  dalam makalah ini, maka bagian pertama yang harus diteliti ialah arti dari kata “malaikat” dan “pelayanan malaikat yang tergantung pada perintah Tuhan”.  Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan "malaikat sebagai makhluk halus pesuruh Tuhan yang mempunyai tugas khusus.”1
 Menurut Ensiklopedi Perjanjian Baru:
malaikat (angel) berasal dari bahasa Yunani aggeloj, kata yang mempunyai peranan "pembawa berita", "utusan", tetapi tidak menyatakan kodrat malaikat.  Alkitab mengandaikan eksistensi para malaikat Allah yang menjadi bagian dari struktur alam ciptaan.  Melalui para malaikat, pandangan kita melampaui dunia yang kelihatan; melalui mereka, kemuliaan Allah, kehadiran dan transendensiNya menjadi lebih nyata.  Pandangan yang terdahulu realistis mengenai makhluk-makhluk surgawi itu, harus dihindari.  Sebab mereka disebut "kemuliaan-kemuliaan dalam Alkitab.2
 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, mendefinisikannya sebagai berikut:  Malaikat dalam Alkitab (Ibrani mal'akh, Yunani angelos) menurut etimologi dan pengertian, adalah pesuruh Allah, yang mengenalNya muka dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan dari pada manusia.  Malaikat tentu adalah makhluk, tapi suci dan mantap, walaupun mempunyai kemauan yang bebas dan karena itu bisa terpengaruh terhadap godaan dan dosa.3
 Dengan adanya definisi ini, pembaca dapat mengenal tentang malaikat, sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, di kekekalan masa lampau, yang bersifat roh, tidak bertubuh, yang memiliki tugas khusus dari Allah untuk memuliakan namaNya dan melayani umat Tuhan.  Orang percaya boleh menghargai pelayanan malaikat, namun tidak menyembah.


BAB II
PELAYANAN MALAIKAT KEPADA ORANG-ORANG PERCAYA DALAM PERJANJIAN BARU

 Alkitab Perjanjian Lama mencatat pelayanan malaikat kepada umat Allah, namun dalam makalah ini tidak dibahas, dan hanya menguraikan pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya di dalam Perjanjian Baru saja.

A.       Menolong Dan Membantu Orang Percaya
 Penulis Surat Ibrani sedang berbicara mengenai Yesus Kristus yang lebih tinggi daripada para malaikat.  Dengan tegas mengatakan bahwa selain melayani Allah dan Yesus Kristus, para malaikat memiliki pelayanan yang lain yakni melayani orang-orang percaya yang telah diselamatkan oleh Tuhan (Ibr. 1:14).  Ayat ini tidak memberikan petunjuk mengenai cara dan bentuk pelayanan para malaikat kepada orang-orang percaya, oleh karena itu sering disebut sebagai pelayanan yang bersifat umum.

B.       Mengambil Bagian Dalam Jawaban Allah Atas Doa
 Ketika terjadi penganiayaan atas orang-orang Kristen di Yerusalem, Herodes membunuh Yakobus.  Pembunuhan itu nampaknya menyenangkan orang-orang Yahudi, karena itu Herodes melanjutkan niatnya dengan menangkap Petrus, salah satu murid yang berpengaruh.  Kisah Para rasul 12:4, mengatakan bahwa Herodes merencanakan hal pembunuhan atas Petrus seperti halnya kepada Yakobus, setelah hari paskah.
 Ayat 5b, merupakan titik awal dari tindakan Allah menolong Petrus keluar dari penjara.  Bermula dari doa yang dipanjatkan dengan tekun oleh jemaat kepada Allah, kemudian Allah merencanakan yang lain untuk menggagalkan rencana si jahat.  “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruangan itu.  Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!”  Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.  Lalu kata malaikat itu kepadanya: “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!”  Lalu ia mengikuti malaikat itu keluar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan” (Kis 12:7-9).
 Lukas, penulis Kisah Para Rasul, mengakui adanya malaikat yang siap melakukan perintah Tuhan untuk melayani jemaat dan Petrus.  Yang datang dan berdiri, menepuk dan menyelamatkan Petrus dalam perikop ini, bukan pribadi Allah atau salah satu dari Allah Tritunggal, tetapi malaikat, utusan Tuhan.  Sebagai sorang dokter, Lukas percaya adanya makhluk rohani yakni malaikat, yang melayani orang percaya setiap saat.
 Pendeta Yunus BS mengatakan:
Malaikat itu ada, mereka ikut serta melayani manusia, kita berterima kasih bagi pelayanannya, tetapi sekali-kali tidak boleh menyembahnya, sebab mereka juga hamba-hamba Allah seperti kita (Wah 19:10; 22:8-9).1

 “Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai keujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.  Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikatNya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.” (Kis 12:10b-11).  Rasul Petrus yang mengenal Tuhan Yesus dengan baik, juga mengenal Bapa dan Roh Kudus yang dicurahkan belum lama sebelum peristiwa ini terjadi, tidak mengatakan bahwa Bapa atau Yesus atau Roh Kudus yang datang dan menyelamatkannya.  Dia tahu benar-benar bahwa malaikatlah yang datang dengan kekuatan dan kuasanya.
Sudah tentu para malaikat tidak henti-hentinya digunakan untuk mencegah hal yang jahat dan mengupayakan hal yang baik.  Jika Allah menolong manusia melalui manusia, kita tidak perlu heran bahwa Dia menolong manusia melalui para malaikat.2
Dengan kekuatan, kuasa, pengetahuan, kemampuan dan hikmat yang dimiliki oleh malaikat, tidak dapat diragukan, mereka sanggup mencegah hal-hal yang jahat yang ingin menyerang orang-orang percaya.

C.       Memperhatikan Pengalaman Hidup Orang Kristen
 Malaikat sebagai pribadi, sering disejajarkan dengan pribadi manusia dan juga dengan pribadi Allah yang dapat bertindak dan memperhatikan segala sesuatu di dalam hidup orang percaya, menurut ajaran Paulus.  Di dalam I Kor 4:9, mengatakan “. . . sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia”.  Maksudnya ialah: selain manusia dan makhluk lain di dunia ini, malaikat juga memperhatikan jalan hidup orang benar.  Sama halnya dengan I Tim 5:21, kalimat yang digunakan oleh Paulus untuk menyampaikan pesannya, memperlihatkan pemahamannya tentang malaikat yang melayani manusia dengan cara menunjukkan perhatian pada jalan hidup dan pelayanan orang-orang percaya.
 Roy H. Hicks mengatakan :
Masing-masing kita mempunyai malaikat yang ditentukan Bapa dan diberikan untuk menjaga kita sebagai Penjaga dan Pelindung (Ibrani 1:14; Matius 18:10).  Malaikat-malaikat itu diberikan kepada kita waktu lahir, diutus oleh Allah Bapa untuk menjaga kita dan mengusahakan setiap waktu kehendak Allah yang sempurna tergenapi di dalam hidup kita.3
Dalam kutipan ini, Hicks menekankan usaha malaikat untuk menjaga dan mengupayakan agar kehendak Bapa tergenapi di dalam hidup orang percaya.  Pendapat ini dapat di terima, sebagai bagian dari tujuan Allah bagi pelayanan para malaikat untuk kebaikan umat Tuhan.

D.       Membawa Berita, Menguatkan Dan Memberi Pengharapan
 Menurut penulis, malaikat yang datang menyampaikan berita tentang adanya pertolongan dari Tuhan, dalam bahaya yang dihadapi oleh Paulus dan seisi kapal (KPR 27:23-24) adalah untuk memberikan kekuatan dan pengharapan.
 Penyertaan Allah dalam perjalanan Paulus ini, dinyatakan melalui kehadiran malaikat, sebagai bagian dari pelayanan malaikat bagi orang yang sedang menghadapi bahaya, yakni memenuhi kebutuhan utama manusia.  Berita yang disampaikan kepada Paulus adalah berita dari surga, sehingga Paulus tidak meragukannya sedikitpun, dan berita itu terjadi, tidak ada yang binasa diantra mereka.
Dalam bukunya, Charles dan Frances Hunter menulis:
Dalam kehebatan kehadiran malaikat-malaikat Allah, saya sering merasa seperti Maria, yang mengatakan, “Biarlah segala sesuatu yang telah kaukatakan itu terjadi” (Lukas 1:38, FAYH).  Ketika Paulus berkata, “. . . tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang kusembah sebagai milikNya” (Kis 27:23),  dia tahu bahwa hal itu akan terjadi!  Dengan cara yang sama, saya mengetahui bahwa berita-berita yang berasal dari hati Allah ini senantiasa merenggut calon penghuni neraka.  Kebenaran-kebenaran itu penting dan nyata! Kehadiran malaikat-malaikat agung, yang langsung datang dari singgasana Allah, demikian mengagumkan, sehingga tidak salah kalau seseorang jatuh sujud menyembahnya.4
 
E.        Menyambut Jiwa-Jiwa Baru Dalam Kerajaan Allah
 Arti dari perumpamaan tentang dirham yang hilang kemudian ditemukan, dijelaskan oleh Yesus sendiri di bagian akhir perikop ini, yaitu: “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk. 15:10).  Perkataan “satu orang berdosa yang bertobat”, mengacu pada orang percaya yang jatuh dalam dosa dan bertobat, dan kepada orang yang baru dimenangkan untuk kerajaan Allah.  Para malaikat menyambut dan memulai pelayanannya bagi orang seperti ini.
 Malaikat menaruh perhatian atas kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen (Kis. 8:26-27).  Dalam peristiwa ini, malaikat Allah memberi petunjuk kepada Filipus untuk pergi memberitakan Injil kepada seorang sida-sida yang siap menerima keselamatan dari Tuhan.

F.        Melayani orang benar di saat meninggal
 Pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya tidak hanya pada waktu masih hidup, tetapi juga setelah mati.  Alkitab mencatat dua peristiwa yang sama-sama membicarakan tentang pelayanan malaikat setelah orang percaya mati, baik kepada Lazarus dan juga kepada Musa.  Lukas 16:22 mengatakan: “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pengkuan Abraham”; dan Yudas 9, mengatakan: “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa”.  Malaikat masih melayani orang percaya setelah meninggal.

G.       Melayani Anak-Anak Dari Orang Percaya
 Tuhan Yesus menegur murid-muridNya dan mengingatkan mereka bahwa malaikat anak-anak itu selalu memandang Bapa di surga.  Maksudnya ialah malaikat-malaikat diutus oleh Bapa untuk melayani anak-anak dan melindungi mereka dari bahaya dan kejahatan.
             Dr. Roy H. Hicks mengatakan:
Ketika Yesus memberikan peringatan perihal anak-anak dan para malaikat mereka, Dia mengatakan bahwa malaikat-malaikat mereka, ada di sorga, selalu memandang wajah Bapa (Mat 18:10).  Bahkan jika malaikat penjaga itu ditugaskan untuk melindungi anak-anak anda, dia tidak dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi hanya sebagaimana dia menerima perintah dari Bapa.5
             Orang percaya yang ingin menikmati pelayanan para malaikat, hanya dengan menjaga hidup kudus dan berkenan kepada Allah.  Meminta kepada Allah agar Dia mengutus para malaikatNya untuk melayani kita.  Ini adalah bagian dari rencana Allah dalam hidup kita, yang dapat kita nikmati, seperti halnya dengan rencanaNya yang lain.


BAB III
SIKAP ORANG PERCAYA TERHADAP MALAIKAT

             Setelah memahami betapa hebatnya pelayanan malaikat kepada orang-orang percaya, maka bagian yang harus dibahas adalah sikap orang percaya terhadap malaikat.  Malaikat tidak setara dengan Allah dan dia bukan Allah.  Oleh karena itu, orang percaya tidak boleh menyembahnya.  Di dalam tulisan Yohanes mengatakan bahwa dia pernah menyembah malaikat, namun malaikat itu sendiri yang melarang Yohanes untuk menyembahnya.  Wahyu 19:10: “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!”.  Malaikat, sebagai pelayan Allah, dengan tegas dan segera melarang Yohanes untuk menyembahnya, dan memberi petunjuk yang benar: “Sembahlah Allah”.  Kalimat yang mengatakan: “Janganlah berbuat demikian” artinya jangan sujud dan menyembahku, kata malaikat.  Malaikat tidak mau dibuang oleh Tuhan kerena menerima penyembahan dari manusia; dan ia tidak mau kalau Yohanes dihukum karena menyembah yang lain, selain Allah.
             Yohanes yang takjub melihat kehebatan malaikat, mengulangi kesalahan yang sama dalam Wahyu 22:8-9.  Malaikat yang menyadari kedudukannya, tetap menolak penyembahan Yohanes, hanya Allah yang layak di sembah.
             Musa di dalam Keluaran 20:4-5 melarang orang Israel menyembah yang lain selain Allah, dan menyamakan penyembahan kepada ciptaan sebagai tindakan membenci Allah (malaikat adalah ciptaan). 
             Pdt Yusus BS, mengatakan:
Karena ini kitapun memerlukan pelayanannya, asal kita mengerti dan menjaga tidak membesar-besarkannya atau menyembahnya.  Jangan berdoa kepada malaikat, hanya kepada Allah. Salah satu cara Allah menjawab doa anak-anakNya ialah dengan mengirimkan malaikatNya. Dari masa-masa yang kritis dan sangat sukar, kadang-kadang Tuhan Yesus mengutus malaikat-malaikat untuk menyatakan diri dan menolong beberapa orang (misalnya Dan 10:12).1


BAB IV
KESIMPULAN

             Tuhan menciptakan malaikat dengan jumlah yang tidak terbatas, untuk melayani setiap orang percaya dan orang-orang yang akan diselamatkan.  Disamping apa yang diajarkan Tuhan kita tentang malaikat-malaikat, para penulis Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa malaikat-malaikat itu benar-benar ada.
             Dalam bukunya “Dan Kemudian Aku MelihatNya”, Pdt. Dr. Samuel Doctorian mengatakan: Mereka sungguh-sungguh nyata, mereka adalah makhluk-makhluk sorgawi sebagaimana yang anda baca di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. . . . Mereka berada di dunia yang tidak terlihat di mana mata jasmani manusia tidak bisa melihat dan makhluk-makhluk sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya.[1]
             Menurut catatan dalam Kitab Kisah Para Rasul, malaikat-malaikat terlibat dalam memberikan pertolongan kepada hamba-hamba Allah: membuka pintu-pintu penjara bagi rasul-rasul, memimpin Filipus dan Kornelius dalam pelayanan dan meneguhkan hati Paulus ketika kapal yang ditumpanginya dilanda badai dalam perjalannya ke Roma.
             Pelayanannya kepada anak-anak, dijelaskan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.  Penulis lebih setuju kepada pemahaman bahwa hanya anak-anak dari orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesuslah yang menikmati pelayanan para malaikat, menjaga dan mengupayakan agar rencana Allah terlaksana.  Pelayanan mereka terus berlangsung sampai pada hari penghakiman.
             Orang percaya dapat bekerja sama dengan malaikat, dengan iman yang teguh kepada Tuhan Yesus, mentaati suaraNya, mengikuti perintahNya dan mendengarkan bisikan Roh Kudus.
             Pelayanan Para malaikat adalah suatu bagian dari rencana Allah bagi orang percaya, yang dapat dipandang sebagai anugerah.  Pelayanan para malaikat dapat dinikmati dengan memohon kepada Tuhan agar anugerah tersebut, dicurahkan.  Dapat meminta agar Mazmur 34:8 digenapi; “Malaikat berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia.”



1 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Halaman 620
2 Ensiklopedi Perjanjian Baru, Halaman 278
3 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 2, halaman 15
1Yusuf BS, Pendeta, Allah, Malaikat dan Setan (Surabaya: t.p., 1986), hal. 94
2Roy H. Hicks, Dr., Malaikat Penjaga (Jakarta: Immanuel, t.t.) hal.
3Dr. Roy H. Hicks, Malaikat Penjaga (Jakarta: Immanuel, t.t.), hal. 100.
4Charles dan Frances Hunter, Kunjungan Utusan Surgawi (Malang: Gandum Mas, 1979), halaman 33.
5Dr. Roy H. Hicks, Malaikat Penjaga (Jakarta: Immanuel, t.t.), hal. 70.

1Pdt Yusus BS, Allah, Malaikat dan Setan (Surabaya: t.p., 1986), hal. 94-101

[1] Samuel Doctorian, Dan Kemudian Aku MelihatNya  (Jakarta : Adonai, 2000), hal. 40

Monday, 30 May 2016

HOMILETIKA (belajar berkhotbah secara terstruktur)

1.      Arti Homiletik
Kata ini berasal dari bahasa Gerika “Homilia” yang berarti: perundingan, penguraian atau khotbah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai ilmu berkhotbah atau pelajaran berbicara dihadapan orang banyak. Homiletik bertujuan untuk semata-mata hendak menerangkan suatu usaha, supaya khotbah tentang Injil dan dapat disajikan dengan cara yang terang, nyata dan berkuasa.

2.      Asal Usul Homiletik
Homiletik sebenarnya berasal dari benua Timur, yakni bangsa Israel. Hal ini terlukis nyata dalam kitab suci:
Perjanjian Lama
a.    Ketika Yehuda memohon kelepasan bagi adiknya Benyamin, maka Yehuda sudah mengatur dengan baik-baik percakapannya, indah susunannya dan sopan juga tutur katanya.
b.    Orang kedus ialah nabi Musa, yang pandai menerangkan dan menafsirkan sesuatu. Seluruh kitab Ulangan memuat tentang tafsiran nabi Musa tentang hukum Israel.
c.    Selanjutnya ialah Yotam dengan caranya berkhotbah, contoh seperti yang ditulis dalam Hakim-hakim 9:7-21 dan ditulis sebagai gurindam.
d.   Raja Daud, ialah dengan menyatakan perasaan hatinya rangkaian syair, dipuji-pujinya nama Tuhan dalam mazmur dan tahlil.
Begitupun nabi Yesaya, nabi Yeremia, dan para nabi yang lain adalah orang-orang yang pandai menguraikan atau mengatur pembicaraan, supaya dapat menguraikan segala sabda Tuhan.

Perjanjian Baru
a.    Yohanes Pembaptis, penghubung Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang memiliki ketegasan dalam tutur katanya tetapi jelas pendiriannya, sebab itu banyak orang tertarik mendengar khotbahnya, meskipun khotbahnya di padang gurun.
b.    Yang paling istimewa ialah cara Yesus Kristus sendiri yang di mana-mana Ia mengajar dan berunding dan selalu bercakap dengan susunan kata yang teratur rapi, sehingga banyak orang yang bersaksi kerena kalimat yang tersusun rapi, perumpamaan yang mudah dipahami dan Ia sangat cerdik dalam soal jawab dengaan siapun juga.
c.    Demikian juga Khotbah Para Rasul, tokoh yang menjadi panutan dalam Khotbah Para Rasul yaitu Paulus dan Petrus yang menyatakan bahwa kepandaian mereka dalam penyusuna perkataan, sehingga tegas dan mudah dipahami isinya oleh setiap orang.

3.      Apakah Khotbah Itu?
Khotbah adalah suatu pembicaraan yang menerangkan jalan keselamatan manusia melalui Yesus Kristus atau Firman Tuhan yang diterima, dirasakan dan dilakukan oleh orang tersebut dan kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata supaya menjadi kesaksian bagi manusia lainnya. Ada hal yang penting dalam berkhotbah yaitu pribadi yang berkhotbah dan isi khotbahnya. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan karena khotbah yang tidak diperkuat oleh kelakuan adalah dusta yang amat besar.

4.      Judul dan Tema Khotbah
Kalau pengkhotbah tahu maksud dantujuan khotbanya, alangkah baiknya ia menjelaskan kepada pendengarnya soal apakah yang hendak dikhotbahkannya. Jika tidak, pasti pendengar sendiri memberi judul kepada khotbah itu, baik juga kalau ia memberikan judul yang bener tetapi kalau tidak! Hal itu akan menjadi penyesalan belaka. Sebaiknya juga pengkhotbah memberikan sebuah judul yang selaras dengan isi khotbah seperti basi berani bagi pendengarnya.
Bagaimana cara mendapatkan tema dan member judul yang selaras dengan isi khotbahnya? Maka dengan demikian pengkhotbah harus memeriksa bunyi ayat atau pasal yang hendak dikhotbahkan. Dalam suatu ayat atau pasal, terdapat beberapa ucapan yang meberikan tekanan lebih dari ayat-ayat lain. Maka dengan itu hendaklah ucapan itu dipakai senagai tema atau menjadi pokok pembicaraan dan dari situ juga pengkhotbah mendapatkan judul yang sesuai.

5.      Arah Tujuan Khotbah
Seorang pengkhotbah bukan saja harus menyediakan baik-baik isi khotbahnya, melainkan harus juga menjaga supaya khotbahnya tetap pada suatu jurusan tertentu. Tujuan yang terbaik dalam khotbah ialah: Yesus Kristus dengan segala pekerjaan-Nya yang sudah genap dan sempurna. Khotbah semacam ini yang sering dipakai roh kudus untuk mendatangkan mujizat dalam pertobatan, yaitu seorang pendosa menangisi dosanya, lali menghampiri Tahta Anugerah Yesus memohon pengampunan dosa. Selain bertujuan tetap, hendaklah khotbah juga mengenai keperluan dan kebutuhan para pendengar.

6.      Memilih Ayat Mas
Sekali-kali jangan gegabah atau ceroboh apabila mengambil sebuah ayat mas sebagai dasar pembicaraan dalam khotbah. Karena dasar itulah yang menentukan apakah khotbahnya akan diabaikan atau diperhatikan orang. Sebab, ada juga yang tidak boleh gegabah dipakai, ada juga yang tidak selaras dengan tiap kejadian dan tiap waktu. Kesalahan yang sering terjadi ialah kecerobohan memakai ayat mas atau dasar pembicaraan khotbahnya. Jadi, bagaimana cara memperoleh ayat mas, dasar pembicaraan kita? Yang perlu dilakukam ialah meminta bimbingna dari Tuhan, membuat buku pribadi tentan ayat kitab sucu yang kelak akan dapat membantu.

7.      Menyediakan Bab dan bagian-bagianya
Setelah menemukan ayat mas, tibalah saatnya untuk menyediakan bab dan bagian-bagiannya atau pokok-pokoknya. Kalau begitu, bagaimana mencari bab dan bagian-bagian atau pokok-pokoknya:
a.    Dengan cara memeriksa ayat sebelum dan sesudahnya, kadang-kadang kita menemukan pokok-pokok yang diperlukan.
b.    Dengan jalan menguraikan ayat ma situ sendiri, kata demi kata, kadang-kadang kita akan memperoleh garis-garis besar yang diperlukan.
c.    Kadang-kadang dengan menambahkan sebagian pernyataan, kita menemukan pokok yang diperlukan.
d.   Kadang-kadang juga dengan mengganti penekanan kata-kata dalam susunan ayat mas tersebut, sehingga mendapat bagian yang tepat.

8.      Tiga Syarat Dalam Hal Berkhotbah
a.    Tulus, lebih dahulu pengkhotbah hendaklah seseorang yang tulus dala persekutuan dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini tulus dapat dilihat dalam ketulusan dalam berdoa, tulus membaca Alkitab, tulus dalam jabatan, pekerjaan, dan terlebih tulus dalam berkhotbah dengan menerangkan Firman Tuhan dengan yang sebenarnya. Agar tulus dalam berkhotbah, pertama-tama kita harus mengerti baik-baik ayat mas, kita harus mengetahui dengan pasti ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat mas, semua ayat itu harus dipahami maksudnya dan terangkan bagaimana semestinya.
b.    Lurus, banyak bagian dan bab dalam sebuah khotbah, tetapi maksudnya hanya sebuah saja dan semua keterangan menjelaskan tujuan ayat mas yang dijadikan dasar pembicaraan. Kadang-kadang ada juga orang yang berkhotbahdengan memakai banyak ungkapan atau kiasan untuk  menyampaikan maksud dan tujuannya. Maka dengan itu yang perlu kita lakukan ialah:
a)      Lurus dalam menguraikan tujuann ayat mas
b)      Lurus mengikuti bab dan bagian-bagiannya
c)      Lurus dalam menyusun cerita.
c.    Bagus, bukan saja artinya permai atau indah, melainkan berarti juga jelas, lancer, tidak kalut, berurutan, tidak lintang pukang, tetapi terang-benderang, tidak campur-baur, tetapi lurus teratur.

9.      Pendahuluan Atau Pembukaan Khotbah
Pada umumnya khotbah terdiri dari tiga bagian/rangkaian yaitu:
a.    Pendahuluan sebagai daya tarik khotbah
Dalam hal ini, pendahuluan yang tepat dipakai menarik perhatian agar awal dari khotbah yang akan disampaikan memberikan rasa penasaran dan perhatian para jemaat. Jika dalam permulaan tidak diawali agar pendahuluan yang menarik perhatian jemaat mungkin sampai khotbah selesai mereka sama sekali tidak memerhatikan pengkhotbah sehingga yang disampaikan oleh pengkhotbah sia-sia.
b.    Pendahuluan sebagai penyuluhan tema khotbah
Dapat kita artikan bahwa pendahuluan itu sebagai pelopor atau pandu yang menerangi tema atau pokok khotbah. Hal ini sama dengan orang yang berkenalan satu sama lain dalam pertemuan pertama, hal ini yang menjadi suatu pendahuluan atau permulaan dalam berkenalan atau juga dalam berkhotbah.

10.  Penutup Atau Kesimpulan
Perkataan kesimpilan berarti pertemuan tali pengikat yang diikat berat. Apabila kita mengikat sesuatu, ujung tali bertemu satu dengan yang lain, lalu kedua ujungnya disambungkan menjadi sebuah ikatan. Dengan ini kita mengerti bahwa kesimpulaan khotbah ialah ikatan dari bab dan bagian-bagian yang telah diururaikan supaya terikat dan terkunci menjadi satu. Beberapa macam penutup atau kesimpulan yang dapat kita terapkan dalam berkhotbah, mengulangi ayat mas dan mengajak pendengar bertekun sehingga tergerakkan hati mereka dan dengan demikian mereka dibawa dan diantarkan kepada jalan keselamatan. Menyampaikan secara ringkas sebagian isi khotbah yang ditekankaan supaya dapat menyadarkan pendengar dan ia juga akan merasakan batapa indah Firman Tuhan itu. Mencertakan kisah pendek atau pengalaman pribadi dalam hal ini kisah atau pengalaman pribadi yang akan disampaikan harus sesuai dengan jalur khotbah yang disampaikan. Mengucapkaan sebuah syair atau nyanyian dalam pengambilan syair alangkah baiknya syair ataupun nyanyian yang umum sehingga pendengar tidak bingung.

11.  Isi atau tubuh khotbah (A)
Yang patut kita perhatikan ialah agar khotbah itu menjadi semakin jelas atau berkembang dari satu bagian ke bagian lain. Demikian halnya dengan berkhotbah, dalam bagian pertama yang harus kita terangkan: apa, mengapa, bagaimana, apa akibatnya? Dengan cara begini sebagian demi bagian khotbah itu semakin jelas.
a.    Apa? Pada bagian ini dapat diisi dengan berbagai keterangan atau penjelasan mengenai soal yang akan diperbincangkan.
b.    Mengapa? Disini kita harus berpikir dengan cerdas, mengatur dengan baik dan menyusun dengan rapi segala percakapan, kaena disini kita harus menjawab sebab-sebab soal yang akan diperbincangkan itu.
c.    Bagaimana? Jadi apa dan mengapa sudah kita terangkan , maka dengan menegaskan bagaimana sesuat itu.
d.   Apa akibatnya? Pada bagian ini menerangkan bagaimana kesudahan semua uraian tadi.

12.  Isi Atau Tubuh Khotbah (B)
Khotnah memiliki aneka ragam sifat, misalnya: khotbah pengajaran, ajakkan, nasihat, kebaktian, peumpamaan, kesaksian, dan khotbah penuturan tetapi jenisnya hanya ada tiga saja. Pertama, penguraian ayat mas dimana ayat tersebut diuraikan sedemikian rupa. Kedua, penguraian suatu pokok dimana suatu topik atau pokok yang diuraikan dengan menggunakan ayat-ayat yang diperlukan. Ketiga, penguraian ayat demi ayat tidak terfokus pada satu ayat mas saja.
13.  Isi Atau Isi Khotbah (C)
Kebanyakkan pengkhotbah yang kurang memahami mempergunakan cara naik mimbar. Mereka berperangsangka bahwa menyusun khotbah suatu pekerjaan ringan. Tetapi ada sebab kenapa khotbah ini dikatakan sudah mendapatkan nama yang kurang baik. Karena kebanyakkan pengkhotbah menyajikan khotbah ayat demi ayat dengan cara serampangan sehingga pendengar merasa jemu dan tidak menyukai cara ini. Contoh:
a.    Kadang-kadang karena kurang paham atau kurang pengalaman, seorang pengkhotbah hanya mengulangi cerita yang tertulis dalam Alkitab.
b.    Kadang-kadang karena kemalasan berkhotbah sehingga ia menerangkan ayat demi ayat tetapi ia sulit melomptinya.
c.    Kadang-kadang juga karena takut.
Almrhum Dr. Jaffray memiliki cara untuk berkhotbah tafsiran:
a.    Pada saat membaca suatu pasal, terlebih dahulu membagi pasal tersebut menjadi beberapa bagian.
b.    Lalu cari bagian pasal yang akan dikhotbahkan setelah itu cari exegetical, doctrinal, dan practical.
c.    Mencari tema yang tidak terlalu panjang atau memuat beberaapa maksud agar mudah diingat dan dimengerti.
d.   Jangan menggunakan kata-kata yang tinggi sehingga pendengar sulit mengerti.
14.  Cerita Pendek Atau Lukisan Dalam Khotbah (Ilustrasi)


Tuesday, 24 May 2016

PENGGENAPAN DAN PENERRAPAN PENEBUSAN

DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN 
BAB II
DEFINISI PENEBUSAN
Penebusan Dapat Diperoleh
1.      Anugerah Khusus 
2.      Anugerah Umum 
BAB III
PENGGENAPAN DAN PENERPAN PENEBUSAN
1.      Penerapan Penebusan
2.      Penggenapan Penebusan
BAB IV
KESIMPULAN 


BAB II
PENDAHULUAN
Pada bagian ini penulis menjelaskan tentang “Penggenapan dan Penerapan Penebusan”. Maka dengan demikian, penulis mengajak para pembaca agar dapat memahami tentang bagian “penebusan” ini. Sehingga apa yang akan di bahas dalam bagian makalah ini dapat memberkati para pembacanya.
Banyak hal yang menjadi pembelajaran dalam makalah ini, mulai dari definisi penebusan, cara penggenapan dan pernerapan penebusan itu sendiri dalam kehidupan orang yang percaya akan kebenaran Kristus. Hal-hal inilah yang menjadi pembelajaran penting yang perlu dilakukan oleh orang percaya. Maka dengan demikian kita sebagai orang percaya akan hidup dalam perlindungan dan penyertaan Yesus Kristus Jurus Selamat kita sebagai orang percaya.
Maka dengan itu, penulis mengajak pembaca untuk dapat memahami dan mengetahui lebih lanjut tentang penebusan ini agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis satu dengan yang lain terutama dengan Tuhan Allah kita. sehingga kita terus memuliakan nama Tuhan kita yaitu yesus Kristus sang penebus manusia.
Selamat membaca!!

BAB II
DEFINISI PENEBUSAN
Kata “Penebusan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata “tebus”, kata tebus ini diartikan membayar dengan uang kembali barang yang tergadai, selain itu tebus juga memiliki makna “membebaskan” tawanan ataupun budak. Menebus juga dapat diartikan sebagai usaha penyelamatan jiwa. Dalam Teologi Kristen penebusan merujuk pada memaafkan atau mengampuni dosa melalui kematian Yesus Kristus dengan penyaliban-Nya yang pada akhirnya memungkinkan adanya pendamaian antara Allah dan ciptaan.
Dalam Alkitab juga terdapat kata “penebusan”, penebusan ini mengandung arti yang sangat penting yang berkaitan erat dengan diri manusia. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penebusan itu merupakan suatu tindakan pembebasan dari Allah terhadap manusia. Berhubungan dengan konsep Kristiani mengenai penebusan adalah istilah harga tebusan. Yesus membayar harga pembebasan manusia dari dosa (Matius 20:28; 1 Timotius 2:6). Kematian-Nya adalah untuk menggantikan hidup manusia. Kenyataannya Kitab Suci amat jelas dalam hal bahwa penebusan hanya mungkin terjadi “melalui darah-Nya” (yaitu melalui kematian-Nya)[1].
Jalan-jalan di surga dipenuhi oleh orang-orang yang dulunya adalah tawanan, yang tanpa jasa mereka sendiri, mendapatkan pengampunan dan kebebasan. Para budak dosa sekarang adalah orang-orang suci. Tidak heran mereka menyanyikan nyanyian baru – nyanyian pujian kepada sang Penebus yang telah disembelih (Wahyu 5:9). Kita dulunya adalah hamba-hamba dosa, dihukum untuk terpisah selama-lamanya dari Allah. Yesus membayar harga untuk menebus kita, menghasilkan kebebasan kita dari perbudakan dosa, dan penyelamatan kita dari konsekwensi kekal dari dosa itu.
Penebusan Dapat Diperoleh
1.      Anugerah Umum
Menurut para revisionis, predestinasi ganda tidak konsisten dengan universalitas kasih Allah. Karena jika hanya sebagian orang yang ditentukan selamat, berarti kasih Allah tidak universal. Maka predestinasi ganda mau direvisi menjadi predestinasi tunggal atau bahkan tidak ada predestinasi sama sekali meskipun kedaulatan Allah tetap diakui.
Menurut Shedd, ajaran tentang predestinasi ganda konsisten dengan universalitas kasih Allah. Pertama, Kalvinisme dari WS mengikuti Alkitab yang mengajarkan kedua hal tersebut. Menurut Shedd, konsistensi kedua hal itu memang tidak dapat diselami namun itu harus diterima, sebab firman Allah sudah menyatakannya. Kedua, terdapat derajat kasih Allah dalam anugerah umum dan anugerah khusus. Walau keduanya merupakan wujud kasih Allah, yang pertama lebih rendah dari yang kedua. Jika Allah tidak memberikan kasih tertinggi-Nya kepada orang berdosa, itu bukan berarti Ia tidak mengasihinya. Allah mengasihi semua orang dan buktinya Ta sudah memberikan anugerah umum kepada mereka. Namun ketika anugerah umum itu ditolak karena kehendak manusia yang cenderung kepada dosa, Allah tidak lagi wajib untuk memberikan anugerah khusus dan ini tidak berarti Ia tidak mengasihi.
Roh Kudus memakai firman untuk menginsyafkan manusia berdosa supaya bertobat dan Ia mendorong orang yang diinjili untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Yesus telah menjadi kurban yang memadai bagi pengampunan dosa setiap orang. Ini semua merupakan rahmat kepada manusia secara universal supaya manusia bertobat dari dosa-dosanya (bdk. Rom 2:4f). Allah betul-betul menginginkan supaya orang berdosa mendengar panggilanNya. Ia ingin anugerah umum berhasil dan diterima manusia. Dengan kata lain, Ia ingin menyelamatkan semua orang berdosa.
1)      Anugerah Umum dan Orang Berdosa
Dilihat dari statusnya, manusia adalah orang berdosa dan sebenarnya tidak layak menerima kasih Allah. Hak satu-satunya adalah hukuman kekal yakni kematian. Tapi nyatanya, Allah mengasihi manusia berdosa. Ia memberikan anugerah umum kepada mereka. Dilihat dari kondisinya, kehendak manusia terbelenggu oleh dosa (hal 21). Kehendaknya selalu terarah kepada dosa, bukan kepada Allah. Jadi, secara positif manusia cenderung kepada dosa, dan secara negatif menolak Allah. Akibatnya, manusia diinjili atau tidak, akan menolak dan menyia-nyiakan anugerah umum. Ia tidak mau dan tidak mampu percaya.
2)      Anugerah Umum dan Keselamatan
Pemeliharaan Allah, firman tertulis maupun tidak tertulis, dan karya Roh Kudus secara umum merupakan rahmat Allah bagi semua manusia secara umum. Semua itu dimaksudkan supaya manusia bertobat dan selamat. Kepada mereka yang mendengarkan Injil, firman tertulis dan karya Roh Kudus menginsafkan mereka akan dosa dan perlunya bertobat, seperti yang dilakukan kan firman tidak tertulis dan karya Roh Kudus atas mereka yang tidak mendengar Injil. Jadi, anugerah umum juga menuntun kepada keselamatan namun bersyarat.
Ketiga kategori ini intinya adalah inisiatif Allah, sasarannya adalah keselamatan semua orang, namun respon manusia ternyata menolak anugerah umum. Tuntutan kepada pihak manusia untuk bekerjasama dengan anugerah Allah nyatanya tidak terpenuhi, sehingga keselamatan dalam anugerah umum bersifat hipotetis. Lain dengan keselamatan dalam anugerah khusus yang bersifat kategoris. Dalam anugerah khusus, inisiatif tetap pada Allah namun sasarannya adalah keselamatan dari kaum pilihan, dan responnya percaya dan bertobat. Dalam anugerah umum manusia hanya didorong untuk percaya dan bertobat, sedangkan dalam anugerah khusus Roh Kudus menjadikan manusia mau, mampu percaya, dan bertobat. Dalam anugerah umum dorongan Roh Kudus tidak disertai karya lahir baru, sedangkan dalam anugerah khusus dorongan itu menghasilkan kelahiran baru. Dalam anugerah umum keputusan manusia diambil dalam kondisi yang berdosa sehingga ia bersikap negatif terhadap tawaran keselamatan, sedangkan dalam anugerah khusus meski manusia berdosa yang membuat keputusan, Roh Kudus telah melahirbarukan dan mendorong yang bersangkutan sehingga ia bersikap positif terhadap tawaran keselamatan.
2.      Anugerah Khusus
Seringkali ada kecenderungan pada orang-orang Kristen untuk tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Mereka baru sungguh-sungguh mencari saat mereka menghadapi krisis. Kita melihat pola yang sama ini terjadi pada bangsa Israel di Perjanjian Lama. Ini merupakan alasan utama mengapa banyak orang seolah-olah terus-menerus berada dalam krisis, seperti dikatakan dalam:
Matius 7:21-27:

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Seperti kita baca di ayat tersebut, hanya memanggil Yesus Tuhan tidak menjamin kita masuk ke dalam kerajaan surga. Kita harus melakukan kehendak-Nya. Memanggil-Nya Tuhan namun tidak melakukan kehendak-Nya berarti sama dengan orang yang tidak percaya. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa kita benar-benar mengenal Raja segala raja yang mulia namun tidak pernah melakukan apa yang dikatakan-Nya? Mengetahui bahwa Dia adalah Allah, namun tidak mentaati-Nya sama saja dengan khayalan yang menipu diri sendiri. Khayalan ini telah menuntun ke dalam berbagai tragedi dan kegagalan saat seseorang harus menghadapi badai kehidupan.
Oleh sebab itu, salah satu pencarian utama kita seharusnya ialah untuk mendengar perkataan Tuhan. Sebagaimana kita diberi tahu dalam Yohanes 10:4, Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Dengan kata lain, jika kita tidak mengenal suara-Nya kita tidak akan mengikuti Dia. Tetapi mendengar perkataan-Nya dan mentaati-Nya adalah dua hal yang berbeda. Banyak orang yang bermegah karena mereka begitu baik dalam mendengar suara Tuhan, tetapi mereka tidak pernah melakukan apa yang difirmankan-Nya. Kita harus menunjukkan bahwa firman Tuhan merupakan harta kekayaan yang tidak terukur dan ternilai. Ketika Tuhan memberi kita petunjuk, kita harus terus mengingat dan merenungkannya, serta sering mengkaji ulang untuk melihat sejauh mana kita sudah menuruti petunjuk-petunjuk Raja kita.
Jika Anda bingung tentang cara mendengar suara Tuhan, maka kembalilah dan tinjau kembali hal-hal yang Anda ketahui sebagai kehendak Tuhan. Hal-hal tersebut seperti doa, membaca Alkitab, persekutuan dan semua petunjuk yang jelas diberikan kepada kita dalam Kitab Suci. Saat kita mentaati semua itu, kita akan mulai berjalan dalam terang, dan terang itu akan membuat jalan kita dan suara-Nya menjadi semakin jelas. Seperti yang dikatakan dalam Amsal 4:18, Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
Jika kita berada di jalan yang benar, segala sesuatu pasti menjadi lebih terang. Jika kita berada di jalan yang salah, maka segala sesuatunya akan menjadi semakin gelap dan semakin membingungkan. Jika jalan kita tidak menjadi semakin terang dan jelas setiap hari, maka berarti kita telah menyimpang dari jalan yang benar. Di dalam Tuhan, jalan yang salah tidak pernah menjadi jalan yang benar. Satu-satunya jalan bagi kita untuk kembali ke jalan yang benar ialah untuk kembali ke titik di mana kita membuat belokan yang salah. Itulah yang disebut dengan pertobatan.
Pertobatan bukan saja merupakan suatu tindakan yang baik; pertobatan adalah salah satu kebenaran Kristen terbesar. Bersama Kristus kita dapat kembali ke titik di mana kita membuat kesalahan, membereskannya, dan memulai kembali. Dalam Kisah Para Rasul 11:18, kita membaca tentang tanggapan orang-orang percaya Yahudi setelah mendengar kesaksian Petrus saat ia pergi ke rumah Kornelius, Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup." Tujuh kata yang paling kuat penekanannya dalam Kitab Suci ditemukan dalam ayat ini: "Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup." Pertobatan adalah anugerah khusus yang Allah karuniakan, dan anugerah itu memimpin kepada hidup.

BAB III
PENGGENAPAN DAN PENERAPAN PENEBUSAN
1.      Penggenapan Penebusan
Dalam penggenapan penebusan ini banyak hal yang dapat menjadi sesuatu pembelajaran bagi kita sebagai orang yang percaya, dan itu juga dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hali dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat luas. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah:
A.    Keharusan pendamaian
Penggenapan penebusan berkenaan dengan apa yang sering kali di sebut atau kita ketahui yaitu Pendamaian. Dan disini juga kita dapat memperoleh pewahyuan Ilahi yang Ultimat dan dengan demikian mendapatkan pemikiran manusia yang ultimat pula. Dalam pikiran manusia yang ultimat tidak mengesampingkan karakterisasi lebih lanjut dari kasih Allah. Alkitab bantak memberitahukan kepada kita orang percya bahwa kasih Allah yang merupakan sember dari pengaliran pendamaian yang dari pada-Nya pendamaian itu tere4kpresikan, juga merupakan kasih yang berbeda dari Allah dari pada yang lainnya.
B.     Natur pendamaian
Dalam natur pendamaian kita sebaiknya menemukan beberapa kata gori yang menyeluruh dalam berbagai aspek pengajaran Alkitab dapat dimasukkan ke dalam katagori yang lebih luas. Aliktan memandang karya Kristus sebagai suatu ketaatan atau konsep yang mernuju ketraatan yang begitu seringnya dengan tujuan untuk menjamun kesimpulan bahwaketaatan itu bersifat umum, dan olek kerenanya bersifat cukup menyeluruh untuk bisa dipandang sebagai prinsip penggalan dan pemersatu.
C.     Jangkauan pendamaian
Pernyataan mengenai jangkauan pendamaian sangatlah sederhana: bagi siapakah Yesus mengadakan pendamaian? Atau dengan bahasa yang lebih sederhana lagi yaitu: untuk siapakah Kristus mati? Dalam hal ini Alkitab memberikan jawaban yang tidak membingungkan yaitu dengan berkata bahwa Kristus mati untuk semua orang. Namun demikian, dengan berbagai pendapat yang mendukung pernyataan ini dari awal sampai akhirAlkitab menggunakan ekspresi yang universal tetapi tidak dapat ditafsirkan dengan arti manusiawi.
Dari berbagai penjelasan diatas hanya ada satu sember yang sah bagi kita untuk menarik konsep yang benar tentang karya penebusan Kristus sumber itu hanyalah Alkitab. Pencobaan selalu berusaha mengintari kita untuk membuktikan ketidaksetiaan terhadap kriterial yang satu dan hanya satu-satunya ini. Tidak ada pencobaan yang lebih mendetail dan begitu kuat dari pada kecenderungan mengonsepkan penebusan dalam pengertian pengalaman pribadi manusia dan dengan demikian menjadikan pengalaman bagi kitasebagai norma.
2.      Penerapan Penebusan
A.    Ordo Terapan
Provisi yang Allah sediakan di dalam pemeliharaan-Nya demi mempertahankan dan memberikan kenyamanan bagi manusia dan binatang tidak diberikan secara pelit ataupun sebagian-sebagian saja. Ia telah menciptakan dunia ini penuh dengan hal-hal baik yang mencukupi kebutuhan manusia dan binatang dalam memenuhi berbagai selera dan keinginan mereka. Provisi yang Allah kerjakan bagi keselamatan manusia dinyatakan dengan lebih melimpah lagi, provisi ini mengungkapkan keberbagaian kebutuhan manusia dan memamparkan limpahnya kepenuhan kebijakkan, hikmat, anugerah, dan kasih Allah. luar biasanya kelimpahan ini tampak di dalam ketetapan kekal Allah berkenaan dengan masalah keselamatan, tampak di dalam penggenapan penebusan secara historik melalui karya Kristus yang satu kali untuk selamanya dan tampak dan penebusan yang berlanjut  dan terus berkembang sampai mencapai kesempurnaannya di dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
B.     Panggilan Efektif
Ada alasan-alasan yang kuat untuk mempercayai bahwa penerapan penebusan dimulai dengan efektif Allah kepada orang-orang berdosa yang telah mati karena pelanggaran dan dosa mereka. Alasan menempatkan panggilan Allah di tempat pertama menjadi pertimbangan kita setelah kita menyorotin pengajaran Alkitab tentang panggilan efektif. Panggilan semacam ini seringkali disebut sebagai panggilan universal dari Injil yang ditunjukkan kepada semua orangtanpa pembedaan yang jelas. Untuk menunjukkan pemaparan universal sebagai panggilan universal bukanlah tidak tepat, ini merupakan satu kemungkinan kuat bahwa panggilan.
C.     Iman dan Pertobatan
Iman adalah aktivitas dari pihak manusian dan hanya di pihak manusia saja karena di dalam iman kita menerima dan bersandarhanya kepada Kristus, untuk memperoleh penebusan. Jaminan iman seperti yang kita akan lihat nanti merupakan seluruh gerakkan dari seluruh jiwa dari komitmen dari kepada Kristus untuk keselamatan dari dosa dan semua akibatnya. Iman yang membawa kepada keselamatan adalah iman penyesalan dan pertobatan kedalam hidup adalah pertobatan karena percaya. Pertobatan ke dalam hidup adalah anugerah keselamatan , di mana seorang yang berdosa keluar dari pengertian dosa-dosanya yang sesungguhnya, dan menerima kemurahan Allahdi dalam Kristus yang dengan kesedihan dan kebencian yang sungguh terhadap dosanya, telah berpaling darinya kepada Allah dalam arti yang sepenuhnya sambil berusahakeras mengikuti ketaatan yang baru.
D.    Ketekunan
Ketekunan merupakan doktrin yang menekankan bagaimana orang-orang percaya bertekun dalam imannya. Dalam hal ini tidak boleh ditekankan bahwa doktrin ini merupakan ketekunan orang suci, karena pengertian “orang suci” adalah mereka yang dipersatukan dengan Kristus melalui penggilan efektif Allah Bapa dan tinggalnya Roh Kudus dalam diri orang itu sehingga menjadikan dia dapat bertekun pada akhirnya. Tetapi Alkitab menyediakan konfirmasi tambhan tentang ketekunan ini yaitu baik untuk mengingatkan perkataan yang tidak pernah diucapkan oleh Tuhan Yesus yang datang dari sorga untuk menjalankan kehendak Dia yang telah mengutus-Nya, yaitu bahwa semua orang telah diserahkan Bapa-Nya kepada-Nya.
E.     Kesatuan Dengan Kristus
Kesatuan dengan Kristus pada diri sendri adalah suatu topik yang sangat besar dan akan merangkul yang lainnya. Kesatuan dengan Kristus ini didasarkan dengan setiap langkah-langkah dari penerapan penebusan dan merupakan suatu kesungguh-sungguhan kebenaran sentral dari seluruh doktrin keselamatan, bukan hanya soal penerapannya tetapi juga penggenapannya melalui Kristus yang satu kali untuk selamanya.
F.      Pemulihan
Pemulihan ini merupakn suatu penyempurnaan dari seluruh proses yang dimulai dari panggilan efektif dan merupakan akhir dari seluruh proses penebusan. Pemulihan ini berarti tercapainya tujuan akhir dari setiap umat pilihan Allah yang telah dipilih seturut maksud kekal Bap dsan melingkupin penggenapan penebusan yang dijamin dan dikerjakan oleh karya pengorbanan Yesus Kristus. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pemulihan bukanlah berkat yang diterima oleh roh orang percaya ketika ia mati, walupun benar bahwa roh orang-orang kudus terpisah dengan tubuhnya tetapi ia akan dijadikan sempurna  di dalam kekudusan dan segera masuk hadirat Kristus.

KESIMPULAN
Dalam kekristen penebusan merujuk pada memaafkan atau mengampuni dosa melalui kematian Yesus Kristus dengan penyaliban-Nya yang pada akhirnya memungkinkan adanya pendamaian antara Allah dan ciptaan. Dalam Alkitab juga terdapat kata “penebusan”, penebusan ini mengandung arti yang sangat penting yang berkaitan erat dengan diri manusia. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penebusan itu merupakan suatu tindakan pembebasan dari Allah terhadap manusia.
Untuk mencapai penggenapan dan penerapan penebusan banyak hal yang penting untuk diperhatikan dan hal-hal ini sangat menunjang dan member pengertian luas kepada pembaca atau orang percaya bahwa, segala sesuatu yang akan terjadi merupakan kehendak Allah dan tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut. Hal bertujuan agar pembaca dapat memahami bagaimana cara Tuhan dalam menyempurnakan atau mengayomi ciptaan-Nya.